Beranda Kabar Wisata Budaya Waroeng Kemarang Adakan Lomba Patrol 2021 Guna Lestarikan Kesenian Daerah Banyuwangi

Waroeng Kemarang Adakan Lomba Patrol 2021 Guna Lestarikan Kesenian Daerah Banyuwangi

0

BANYUWANGI – Berawal dari keinginan para pegiat seni Banyuwangi yang haus untuk berkarya kembali lantaran masih adanya pandemi sejak tahun lalu, akhirnya membuat pemilik dari Waroeng Kemarang, Wowok tertarik untuk memfasilitasi para seniman muda Banyuwangi ini dalam menghasilkan karya, khususnya seni musik patrol yang menjadi ikon dari musik Banyuwangi.

Acara lomba musik patrol 2021 ini merupakan kegiatan kerjasama antara Waroeng Kemarang dengan beberapa komunitas, seperti Dewan Kesenian Blambangan (DKB), Komunitas Osing Pelestari Adat Tradisi (KOPAT), Gesah Bahasa Osing Tulen (GBOT), dan Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI). Acara tersebut digelar setiap weekend mulai tanggal 24 April hingga kemarin Minggu, (09/05/21) malam selama Bulan Ramadhan 1442 H di Waroeng Kemarang, Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.

Ketua RAPI, Priyono, mengatakan bahwa komunitas RAPI membantu memback up acara tersebut terutama dalam hal pengkomunikasian kepada masyarakat. Proses awal untuk mengumpulkan para pesertanya melalui peran sosial media, seperti facebook, instagram, dsb.

“Bersyukur sekali pendaftarnya sangat antusias. Tujuan dari acara ini salah satunya ingin melestarikan kembali kesenian patrol yang memang sudah vakum setahun karena adanya pandemi. Oleh karena itu, walaupun kegiatan lomba patrol ini tidak menjadi rangkaian B-Fest, namun tahun ini tetap kita adakan bersama rekan-rekan seni eksternal lainnya,” tutur Priyono.

Priyono menambahkan bahwa RAPI sangat mendukung Lomba Patrol 2021 ini. Tidak hanya memberikan sarana radio untuk mengkomunikasikan kegiatan ini, melainkan juga turut menjaga penerapan protokol kesehatan pada pengunjung agar semua terhindar dari penularan Covid-19.

Lomba patrol 2021 diikuti oleh 13 grup dari berbagai wilayah di Kabupaten Banyuwangi. Lomba dibagi menjadi 3 babak, yakni penyisihan, semifinal, dan final. Untuk final hanya diambil 5 grup patrol saja.

Di sisi lain, Ketua DKB, Hasan Basri,mengatakan, bahwa dalam lomba patrol ini ada sedikit pergeseran, yaitu dari aturan peralatan yang harus menggunakan bambu, kemudian adanya penilaian yang dilihat dari koreografi, gerakan, harmonisasi, dan komposisi musik.

“Untuk pemilihan lagunya sesuai dengan tema yang ditentukan, yakni religi dan Banyuwangian. Masing-masing grup hanya diberi durasi 10 menit untuk perform. Terlepas dari itu, panitia membebaskan bagaimana aransemen, koreo, dan alat musiknya,” tutur Hasan.

Hasan juga menambahkan, bahwa Patrol yang bermula dari partisipasi dasar masyarakat terhadap lingkungan yang kemudian diperindah aktivitas komunalnya melalui musik ini, semakin berjalannya waktu akan terus berkembang.

“Semula musik patrol hanya terdiri dari satu bilik bambu saja. Namun, lambat laun berkembang menjadi 4-5 bilik bambu bahkan lebih pun tak masalah. Intinya, keseluruhan musik patrol harus berbahan dasar bambu. Inilah yang menjadikan kesenian musik patrol Banyuwangi unik dan berbeda dari kota-kota lainnya,” tambahnya.

Seusai perlombaan, Ketua Dewan juri Aekanu Hariyono didampingi 6 juri lainnya terdiri dari para Praktisi Patrol, Praktisi musik dan Seniman, Budayawan, Praktisi lulusan Akademisi Kesenian mengumumkan pemenang lomba musik patrol ini. Juara 1 Joyo Karyo dari Singotrunan. Juara 2 Pengamen Jalanan dari Dinas Sosial. Juara 3 Mbah Gandrung dari Singojuruh. Juara harapan 1 Jajang Selaras dari Lateng dan harapan 2 diraih oleh Kharisma Blambangan dari Cungking.

Pemberian piala, piagam, dan uang pembinaan diserahkan langsung oleh Wakil Bupati Banyuwangi yang kala itu hadir untuk menyaksikan grand final perlombaan tersebut.

“Musik patrol sebagai media komunikasi masyarakat, terutama pada saat bulan puasa. Masyarakat dibangunkan untuk sahur melalui musik patrol ini. Namun harapan kedepan musik patrol ini juga bisa lebih berkembang dan membanggakan Banyuwangi tentunya,” ungkapnya.

Di akhir acara, sang owner Waroeng Kemarang, Wowok tiada hentinya mengucapkan rasa syukur. Pasalnya, kegiatan yang sudah direncanakan matang ini sesuai dengan ekspetasinya. Ia ingin kedepannya kegiatan pelestarian kesenian patrol ini tetap diadakan.

“Saya ingin kesenian musik patrol ini terus dikembangkan di beberapa daerah Banyuwangi, tentunya oleh generasi milenial yang tujuan akhirnya bisa entertaint. Jadi mereka tidak sekedar bermain patrol, namun juga berkoreo dengan bagus dan dinikmati oleh banyak kalangan. Mudah-mudahan tahun depan Pemkab turut campur dalam menyediakan hadiah, misalnya. Untuk penyelenggara bisa dari kami para komunitas seni Banyuwangi,” tuturnya. Senin, (10/5/21) (AR)

- Advertisment -

Kirim Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here