Beranda Kabar Wisata Kuliner UMKM Keripik Gadung Cita Rasa Khas Nan Lezat, Kini Mulai Banyak Dicari!

UMKM Keripik Gadung Cita Rasa Khas Nan Lezat, Kini Mulai Banyak Dicari!

0

BANYUWANGI – Di tengah Pandemi Covid-19 saat ini, pengembangan bisnis keripik umbi gadung oleh masyarakat di Banyuwangi masih terus berjalan. Kekhasan rasanya yang gurih dan nikmat menjadikan keripik tersebut sebagai primadona bagi masyarakat Banyuwangi.

Lantaran citarasanya yang nikmat dan sangat cocok untuk sajian lebaran, keripik umbi gadung banyak yang mencari. Pasalnya, umbi gadung adalah sumber makanan yang dikenal oleh seluruh masyarakat, termasuk di Banyuwangi. Selain bisa dikonsumsi dengan cara direbus, umbi gadung juga dapat digunakan sebagai keripik yang cita rasanya harum dan khas.

Salah satu masyarakat yang masih aktif memproduksi keripik umbi gadung terdapat di Dusun Derwono, Desa Bala, Kecamatan Songgon, Banyuwangi ialah Jamilah. Saat ditemui di kediamannya, Jamilah dan beberapa karyawan lainnya sedang melakukan proses pembuatan keripik umbi gadung pada Jumat, (16/4/21).

Walaupun menjadi favorit di hati masyarakat, produksi keripik umbi gadung ternyata hanya dilakukan setiap satu tahun sekali lantaran terdapat beberapa kendala, seperti pengolahan umbi gadungn yang cukup susah dan mengandung zat beracun, yakni sianida.

Dengan begitu, apabila salah mengolahnya maka bisa fatal akibatnya. Bahkan, jika sudah diolah dengan benar namun dikonsumsinya berlebihan maka dapat menyebabkan rasa mual dan mabuk “gadung” biasa disebutnya.

Dengan kesulitan yang ditemui di atas, pengolahan umbi gadung ini seringkali diabaikan. Padahal, gadung yang diolah sebagai keripik sebenarnya merupakan jajanan yang cukup potensial untuk dikembangkan.

Proses mengolah umbi gadung agar tidak membahayakan bagi kesehatan, mula-mula harus dikupas kulitnya lalu dicuci dengan air mengalir hingga bersih. Kemudian, umbi gadung diiris tipis-tipis untuk menghilangkan kandungan racunnya. Umbi gadung yang sudah diiris langsung dilumuri dengan abu kayu dan dijemur di bawah terik matahari. Setelah cukup kering, irisan gadung diangkat lalu dicuci bersih dengan air yang mengalir dalam jumlah banyak. Langkah selanjutnya adalah gadung dijemur kembali hingga benar-benar kering. Tahap akhirnya, setelah gadung dinyatakan kering barulah siap untuk digoreng serta dikemas.

“Saya mendapat gadung dari kebun para tetangga yang memang memiliki kebun umbi gadung. Jadi, saya beli untuk stok bahan utama keripik gadung. Kalua dihitung waktu produksinya mulai awal hingga akhir menjadi kemasan keripik gadung bisa memakan waktu hingga 4 hari 4 malam,” jelas Jamilah.

Jamilah juga menambahkan, bahwa sekali produksi bisa mencapai 25 kilogram bergantung jumlah bahannya. Terkadang juga produksi dilakukan sesuai dengan permintaan konsumen namun dirinya selalu memberi saran jika pemesanan di atas 25 kg biasanya hasil dari keripik umbi gadungnya kurang bagus.

“Sebetulnya kalua mau lebaran ini musim umbi gadung sudah tidak ada. Namun, berhubung peminatnya terus meningkat ya akhirnya saya memaksa untuk melakukan produksi,” tambah Jamilah.

Bersamaan dengan adanya pandemi sejak tahun lalu, Jamilah juga pernah mengalami fase sulit lantaran penjualan keripiknya yang berkurang drastis.

“Ya pernah turun drastic peminatnya karena pandemi tapi alhamdulillah mulai tahun ini penjualan keripik umbi gadung mulai meningkat Kembali walaupun bahannya yang masih terbilang jarang,” ujarnya.

Jamilah berharap bahwa kedepannya bisnisnya semakin lancar dan adanya bantuan dari pemerintah untuk melancarkan usaha dan pemasarannya. (AR)

- Advertisment -

Kirim Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here