Beranda Kabar Usaha Inspirasi Kemiskinan Tidak Menghalanginya Untuk Sekolah

Kemiskinan Tidak Menghalanginya Untuk Sekolah

0

Nama lengkapnya Kalyana Raman Srinivisan, namun kini terkenal dengan nama Kal Raman. Pendiri Global Scholar di India ini di kenal sebagai sosok sukses yang berangkat dari ketidakpunyaan.

Kal aman lahir di desa kecil bernama Mannarakoli, Tirunelevi, Tamil Nadu.  Ia terlahir dari keluarga keluarga kelas menengah yang berhasil. Namun kematian ayahnya mengubah segalannya. Saat itu Kal berusia 15 tahun dan belum siap ikut menopang kebutuhan keluargannya. Yang lebih parahnya, pensiun yang di terima ibunya tak seberapa, padahal harus menghidupi lima orang (ibu dan empat anaknya) di keluarga itu.

Untuk menekan pengeluaran, mereka pindah ke rumah sederhana tanpa listrik dan persediaan air yang memadai. Saudara-saudaranya sudah menyarankan agar anak pertama, kakak Kal, bekerja saja, tak perlu melanjutkan sekolah agar bisa membantu pendapatan keluarg. Namun ibunya menolak.

“Anak-anak  saya harus mendapatkan pendidikan terbaik sebisa mungkin yang bisa saya berikan. Pendidikan adalah penyelamat kami,” kata sang ibu

Pernyataan itu ibarat pendorong semangat Kal dan saudara-saudaranya untuk belajar sebaik mungkin meski dengan ekonomi seadanya. Karena itu walaupunmalam hari mereka tak memiliki cukup cahaya untuk membaca buku, Kal punya cara lain yang lebih murah. Ia pergi ke pinggir jalan. Di bawah lampu di jalanan itulah setiap malam ia belajar. “saya bersyukur karena lampu di jalan itu tak pernah mati,” kata Kal. Ia sampai hapal siapa pemimpin perusahaan yang menyediakan listrik itu sebab ia sangat berterima kasih karena lampu yang terus menyala. Kal pun bisa meneruskan sekolah hingga lulus SMA. Saat itu prestasi belajarnya baik sehingga ia beerhak lolos ke Anna University di Chennai di bidang teknologi dan Tiruneleveli Medical College, Tirunelveli, bidang kedokteran.

Saat berjalan menuju Tirunelveli untuk daftar ulang, Kal mengatakan, jika ia meneruskan kuliah ke kedokteran hidupnnya akan di mulai dan bearkahir di Tirunelevi, padahal ia ingin melihat dunia. Akhirnnya ibunya setuju pilihan Kal untuk melanjutkan sekolah di Chennai (dulu namanya Madras), ibu kota Tamil Nadu, India. Kal pun mengambil jurusan  Electrical engineering and electronics.

Meski ia mendapatkan beasiswa, namun tidak penuh. Uang kuliah awalnnya harus ia penuhi dengan bantuan kiri kanan karena beasiswa itu tak memenuhi kebutuhannya. Ia hanya mendapat beasiswa 250 rupee sebulan. Uang sebesar itu  hanya pas untuk membayar uang asrama mahaiswa dan makan yang terbatas. Ini serba salah, jika uang itu ia bayarkan untuk asrama mahasiswa, ia tak akan bisa makan setiap hari. Karena itu harus pandai pandai mengaturnya. Ia selalu berlama-lama di kampus dan berharap ada kegiatan yang membuatnya mendapat jatah makan. Sering kali makanan ia dapatkan dari bantuan teman-temannya.

Kondisi itu mendorongnya belajar cepat agar ia lebih cepat terbebas dari penderitaan . Dengan lebih lama belajar sehingga waktu kuliahnnya sesuai jadwal. Akan tetapi pada saat ujian akhir ia harus kelaparan karena sehari setengah tak mendapatkan makan. Untungnya ujian bisa ia selesaikan. “usai ujian saya benar-benar hampir sakit,” katanya.

Usai kuliah ia bekerja di Tata Consulting Engineers. Ia memilih di tempatkan di Mumbai karena merupakan kota besar. Ia tak punya family di sana namun itu tak di pedulikannya. Di Mumbai ia tinggal di stasiun. Hari pertama kerja, ia mandi di stasiun itu dan masuk kantor dengan harapan tinggi. Namun ketika masuk ia sudah mendapat teguran dari manajernnya karena sang manajer melihat Kal tak mengenakan sepatu. Dengan marah sang manager membentak Kal. “Saya tak peduli bagaimana kamu berpakaian saat belajar di kampus. Tetapi di sisni kamu tak bisa mengenakan sandal. Besok kamu harus pakai sepatu,” katanya.

Kal menjelaskan bahwa besok pagi ia belum bisa pakai sepatu. Bukan tidak mau namun tak punya uang. Ia menyebutkan bahwa rencana membeli sepatu sudah ia rancang setelah gaji pertama ia terima. “Tolong jangan keluarkan saya darin isni karena saya bekerja untuk keluarga saya. Kami sangat membutuhkan uang,” papar Kal. Si manager bertanya lagi, “kamu tinggal di mana? Kal menyahut, “Di stasiun.”

Akhirnya Kal mendapatkan dispensasi. Bukan boleh memakai sandal di bulan pertamanya bekerja, tetapi ia mendapat gaji di muka. Selain itu sang manajer mencarikan tempat tinggal sementara dan membelikan sepasang sepatu. “itusepatu pertama yang bisa saya miliki,” kata Kal. Hari berikutnya ia sudah mengirim 1500 rupee untu8k ibunya.

Kariernya melesat cepat. Bakhan ia mendapat kesempatan di kirim ke luar negeri yaitu ke Edinburg, Inggris sebagai tenaga ahli program komputer. Dari sana ia dikirim ke Amerika Serikat. Ia benar-benar bisa melihat dunia. Ia ke AS tahun 1992 dengan bekal kontrak dengan Wal-Mart, jaringan supermarket terbesar dunia. Dalam dua tahun ia malah diangkat menjadi direktur di salah satu divisi di Wal-Mart. Setelah itu ia beberapa kali pindah kerja di perusahaan-perusahaan ternama dunia.

Berbekal pengalaman itu, ia kemudian mendirikan GlobalScholar, sebuah perusahaan yang memproduksi software untuk bidang pendidikan. Ia ingat pepatah ibunya bahwa pendidikan adalah penyelamat hidupnya. Dengan bekerja di bidang ini ia membantu menyelamtkan banyak orang. Bahkan ia merasa, hal terbaik yang bisa ia lakukan adalah pendidikan.

Kal Raman banyak di puji karena dedikasinya yang timggi pada dunia pendidikan. Latar belakangnya yang susah juga memberikan inspirasi bagi murid-muridnya bahwa pendidikan adalah hal uatama dalam  hidup. Kini Kal tidak hanya sukses menjadi tokoh pendidikan yang di hormati dunia, secara pribadi ia benar-benar sudah mengangkat keluarganya dari kemiskinan. Pendidikan telah menolongnya dan ia menganggap ibunyalah sang pahlawan hidupnya. “pendirian GlobalScholar ini bukan bentuk sumbangan saya tetapi tanggung jawab saya. Saya membayar utang saya pada masyarakat yang telah membei saya makan, mengairi saya, memelihara saya, dan memberikan saya harapan,” katanya. Sungguh kisah yang inspiratif.

Sumber : Majalah Luar Biasa

 

Tinggalkan Komentar