Beranda Kabar Wisata Budaya Tentang Patung Omprok Gandrung Terbesar, Ini Ungkapan Penulis Buku ‘Sritanjung Hidup Kembali’

Tentang Patung Omprok Gandrung Terbesar, Ini Ungkapan Penulis Buku ‘Sritanjung Hidup Kembali’

0
Lokasi Tempat Patung Omprok Gandrung Terbesar di Waroeng Kemaran, Taman Suruh, Banyuwangi

Banyuwangi – Penulis buku ‘Sritanjung Hidup Kembali’ Aekanu Hariyono, sempat mengenang perjalanannya ke salah satu kota di negara yang dikenal sebagai negara dengan penguasaan ilmu dan teknologi maju di berbagai bidang, Jerman.

Kenangan tersebut terlintas saat dirinya sedang diundang gesah budaya (ngobrol budaya) oleh pasangan pengusaha sukses sekaligus pemerhati seni Osing, yaitu Kang Wowok Meirianto dan Mbak Ririt Dwi Chryssantien Meirianto di Waroeng Kemarang, (salah satu rumah makan yang berkonsep alam di Desa Tamansuruh).

Aekanu Hariyono mengatakan, dengan kostum yang sederhana, Gandrung Temuk tetap memiliki aura magis yang luar biasa. Hal tersebut ia ungkapkan bersama Kang Wowok Meirianto dan Mbak Ririt Dwi Chryssantien Meirianto yang akan membuat ikon Patung Omprok Gandrung terbesar di area panggung seni pertunjukan terbuka di tengah sawah waroeng kemarang.

“Saat saya diundang gesah budaya terkait proyek pembangunan Omprok Gandrung terbesar, oleh Kang Wowok Meirianto dan Mbak Ririt Dwi Chryssantien Meirianto di Waroeng Kemarang, ingatan saya langsung tertuju kepada Gandrung Temuk, pada saat saya ajak tampil di Frankfurt Jerman. Dengan mengenakan Omprok di kepalanya, berselendang merah dipadu dengan kostum khas yang terlihat sederhana, tapi memiliki aura magis dan daya pesona yang luar biasa” ungkap Aekanu Hariyono.

Jauh sebelumnya, pada tahun 2004 Aekanu Hariyono datang pertama kali ke Thailand, sempat terbelalak saat melihat kuluk (mahkota) indah menjulang tinggi yang dikenakan para penari Cabareth show.

Kemudian tahun 2006 Aekanu bertemu lagi dengan para penari negeri Gajah Putih saat bersamaan tampil dengan Gandrung Banyuwangi pada acara Parade Midosuji di Osaka Jepang. Dirinya mengatakan jika omprok yang dipakai Gandrung lebih pendek dari kuluk penari Thailand. “Tapi omprok mempunyai daya tarik tersendiri karena gerak kepala penari yang lebih atraktif dan dinamis penuh estetika” kata Aekanu.

Sebagai interpreter dan tour guide, Aekanu sering ditanya oleh tamu tentang Gandrung mulai dari strukur gerak maupun kostumnya. Salah satu yang menarik perhatian mereka adalah Omprok yang khas dipakai sebagai penutup kepala si penari Gandrung. Bahkan Aekanu sering memberi sugesti kepada tamu dari berbagai daerah/negara.

Dengan mengatakan “siapapun wanita yang mengenakan omprok gandrung (apalagi dengan mengenakan kain sampur selendang merah), maka ia pasti akan tampak lebih cantik karena pengaruh aura dari omprok tersebut sebagai penghormatan kepada Dewi Sri”

Menurut Aekanu Hariyono, OMPROK adalah mahkota penutup kepala khusus untuk penari Gandrung Banyuwangi sebagai kelengkapan yang sangat penting dalam seni pertunjukan. “Omprok” atau mahkota sama peran dan kedudukannya seperti “kuluk” yang dikenakan oleh para pemain teater tradisional pada umumnya yang dipakai di kepala di mana sebagai bagian tubuh manusia yang dianggap paling sakral. Hiasan ornamen Omprok memiliki makna secara estetis, simbolis, etis serta filosofis yang mempunyai arti value yang sangat dalam.

Ornamen “Pilis” yang melengkung di atas alis di bawah dahi menutupi rambut,warna perak atau keemasan bermakna ungkapan ekspresi dari sistem budaya yang berisi norma adat, norma religi, norma etika,norma tata krama kesopanan, norma hukum, dan norma kesusilaan yang ada pada masyarakat.

Ornamen Wayang berkepala ksatria Pandawa(Gatotkaca) dan berbadan ular naga bermakna ksatria, penguasa atau manusia yang selalu berpihak pada kebaikan,kebenaran dan simbul kepemimpinan yang merakyat bersifat “andhap asor” tanpa pilih kasih.

Ornamen hias sungging Omprok adalah Kangkung Setingkes dan Gajah Oling bermakna mengajak untuk selalu rukun dengan sesama, ingat kepada Tuhan, ingat perputaran hidup “Cokro manggilingan” ada siang ada malam,ada baik ada buruk,ada jaya ada apes.

Di atas pilis ada Gunungan atau Meru merujuk pada Tri Hita Karana (dalam Hindu) sejalan dengan hablumminalloh, hablumminannas dan hablumminalalam (dalam Islam) bermakna harmonisasi hidup antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, manusia dengan alam sekitar.

Kembang goyang di bagian atas omprok dan hiasan monte melingkar bagian bawah omprok yang tampak indah menjuntai ke bawah bermakna jadilah manusia yang lentur ramah adaptip fleksibel dan selalu memberi manfaat kepada makluk lain, cerdas pemikirannya, halus budi pekertinya, bersih hatinya, dan tampil selalu menarik hati. Dalam hal ini agar semua orang tertarik, jatuh hati saat melihat tarian gandrung yang ditampilkan sesuai makna gandrung adalah jatuh cinta yang mendalam.

Gandrung tidak hanya sebagai fungsi ritual, tapi juga fungsi profan bahkan pernah berperan dalam perjuangan mengusir penjajah. Gandrung juga mempunyai peran penting sebagai fungsi sosial untuk merekatkan tali persaudaraan dengan tidak memandang perbedaan terlihat dari episode “paju gandrung” yang terinspirasi dari “tundikan Seblang” dengan mata terpejam ia melempar sampur (selendang) ke arah penonton tanpa tebang pilih untuk menari bersama sebagai tanda persaudaraan dengan dasar saling menghormati.

Gandrung berselendang merah sebagai media untuk menghormati Dewi Sri, menghormati ibu, menghormati kaum perempuan yang lebih mempunyai peran dalam berbagai ritual masyarakat agraris Osing yang berhubungan dengan kesuburan dan kesejahteraan.

Proyek Pembuatan Omprok Gandrung Terbesar

Saat ini pengunjung Waroeng Kemarang, bisa melihat secara langsung proses kreatif seorang seniman asli Osing Kang Saham Sugiono dengan udheng khasnya mengerjakan patung ikonik Omprok Gandrung yang diperkirakan akan selesai bulan Oktober 2020 ini. (*)

- Advertisment -

Kirim Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here