Beranda Kabar Wisata Budaya Sumur Rumah Dinas Bupati Banyuwangi Adalah Bukti Sumpah Sritanjung

Sumur Rumah Dinas Bupati Banyuwangi Adalah Bukti Sumpah Sritanjung

0
Gambar : https://www.youtube.com/watch?v=GmauvpATz08

Banyuwangi – Nama Banyuwangi tak luput yang dari kisah Sritanjung-Sidopaksa. Kisah cinta yang dibalut dengan cinta, kesetiaan dan kematian itu menjadi cikal bakal nama Banyuwangi. Namun tahukah kamu, ada lokasi yang dipercaya sebagai tempat munculnya nama Banyuwangi. Lokasi itu berada di belakang Pendopo Shaba Swagata Blambangan.

Lokasi tersebut adalah sebuah sumur yang ada di pojok utara sebelah timur rumah dinas Bupati Banyuwangi. Warga Banyuwangi menyebut sumur tersebut dengan Sumur Sritanjung.

“Budayawan percaya jika telaga Sritanjung ini berada di belakang Pendopo. Makanya kita rawat dan kita berikan nuansa alam berupa taman di sekitar sumur,” ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas kepada awak media, Senin (19/10/2020).

Sumur tersebut berukuran diameter 2 meter. Dalamnya sekitar hampir 5 meter. Di dalam sumur tampak air yang jernih tak pernah surut meski kemarau. Di samping sumur, disediakan bak untuk tempat mencuci muka. Sebab, yang datang ke sumur Sritanjung selalu membasuh muka agar diberikan keberkahan. Tak hanya masyarakat biasa, tapi juga pejabat yang datang ke sumur ini.

“Kami membuka Pendopo setiap hari Sabtu dan Minggu untuk siapapun yang ingin melihat pendopo. Tak hanya sumur, arsitektur Pendopo khususnya bagian belakang itu kita rombak seperti bukit dengan ada ruangan ramah lingkungan tanpa lampu jika siang hari. Tentu ini salah satu bentuk upaya kita dalam melestarikan Pendopo sebagai bangunan bersejarah,” tandasnya.

Banyak versi cerita kisah Sritanjung. Cerita ini bermula saat seorang ksatria yang tampan dan gagah perkasa bernama Raden Sidapaksa. Ia mengabdi kepada Raja Sulakrama yang berkuasa di Negeri Sindurejo. Sidapaksa diutus mencari obat oleh raja kepada kakeknya, Bhagawan Tamba Petra, yang bertapa di pegunungan. Di sana dia bertemu dengan seorang gadis yang sangat ayu bernama Sritanjung. Sri Tanjung bukanlah gadis biasa, karena ibunya adalah bidadari yang turun ke bumi dan diperistri seorang manusia.

Raja Sulakrama diam-diam terpesona akan kecantikan Sritanjung. Sang Raja menyimpan hasrat untuk merebut Sri Tanjung dari tangan suaminya, sehingga ia mencari siasat agar bisa memisahkan Sri Tanjung dari Sidapaksa. Sidapaksa pun diutus ke khayangan untuk mengirimkan surat ke para dewa.

Sepeninggal Sidapaksa, Sri Tanjung digoda Raja Sulakrama. Sritanjung menolak, tetapi Sulakrama memaksa, memeluk Sri Tanjung, dan hendak memperkosanya. Mendadak datang Sidapaksa yang melihat istrinya berpelukan dengan sang Raja.

Raja Sulakrama yang jahat dan licik, malah balik memfitnah Sritanjung dengan menuduhnya sebagai wanita sundal penggoda yang mengajaknya untuk berbuat zina. Sidapaksa termakan hasutan sang raja dan mengira istrinya telah berselingkuh, sehingga ia terbakar amarah dan kecemburuan.

Sritanjung pun dibawa ke telaga. Dengan penuh kesedihan Sri Tanjung bersumpah bila dirinya sampai dibunuh, jika yang keluar bukan darah, melainkan air yang harum. Maka itu merupakan bukti bahwa dia tak bersalah.

Akhirnya dengan garang Sidapaksa yang sudah gelap mata menikam Sri Tanjung dengan keris hingga tewas. Maka keajaiban pun terjadi, benarlah persumpahan Sritanjung, dari luka tikaman yang mengalir bukan darah segar melainkan air yang beraroma wangi harum semerbak. Konon air yang harum mewangi itu menjadi asal mula nama tempat tersebut yang kemudian menjadi ibu kota kerajaan Blambangan, dinamakan Banyuwangi yang bermakna “air yang wangi”. Melihat hal tersebut, Raden Sidapaksa menyadari kekeliruannya dan menyesali perbuatannya.

(fat/adv)

- Advertisment -

Kirim Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here