Beranda Kabar Wisata Budaya Renovasi Petilasan Buyut Chili Leluhur Osing Banyak Mengandung Pesan Moral

Renovasi Petilasan Buyut Chili Leluhur Osing Banyak Mengandung Pesan Moral

0
Lokasi : Desa Adat Kemiren Kecamatan Glagah, Banyuwangi

Banyuwangi – Setiap desa pasti mempunyai sebuah tradisi dan adat istiadat yang beraneka ragam, dan itu merupakan warisan leluhur yang sampai saat ini, tradisi tersebut masih melekat di masyarakat. Seperti halnya Petilasan Buyut Chili yang ada di Desa Adat Kemiren.

Tepat hari Minggu pagi, sejumlah masyarakat adat Desa Kemiren melakukan renovasi di tempat Petilasan Buyut Chili, renovasi tersebut dilakukan lantaran beberapa tiang dan atap gubuk, yang menjadi pelindung Petilasan Buyut Chili dari terpaan panas dan hujan, sudah mulai lapuk (13/9).

Namun dari proses renovasi tersebut, ada hal menarik yang menjadi keyakinan masyarakat adat setempat dalam mempertahankan budaya dan mengagungkan leluhurnya.

Lokasi : Desa Adat Kemiren Kecamatan Glagah, Banyuwangi

Misalnya seperti, atap petilasan tidak boleh memakai atap yang sejenis dengan genteng, namun harus menggunakan anyaman jerami, kemudian dinding tidak boleh menggunakan tembok, namun harus menggunakan anyaman bambu termasuk juga tiang penyangganya yang harus menggunakan bambu.

Masyarakat setempat juga meyakini, bahwa saat proses perbaikan atap, tidak boleh ada orang yang berada tepat diatas petilasan. Alhasil, secara bergotong-royong masyarakat harus bersama-sama mengangkat gubuk yang menjadi pelindung petilasan untuk digeser kesamping, kemudian barulah diperbaiki.

Budayawan Banyuwangi Aekanu Haryono mengungkapkan, bahwa kegiatan renovasi Petilasan Buyut Chili tersebut tidak sekedar perbaikan benda yang lapuk, namun juga mengandung perbaikan moral bagi kita masyarakat sekarang dari pesan leluhur suku Osing.

Lokasi : Desa Adat Kemiren Kecamatan Glagah, Banyuwangi

“Ini hebatnya, pesan moral yang disampaikan leluhur dulu itu, kalau mau mengajak orang selalu mengisyaratkan kekompakan, ayo guyubo! nah, itu ajakan untuk kekompakan, agar semua warga bisa bergotong-royong dalam segala hal” kata budayawan Banyuwangi yang juga hadir di lokasi.

Dia juga mencontohkan, seperti proses pemindahan dan renovasi gubuk Petilasan Buyut Chili, dimana yang seharusnya bisa dilakukan oleh satu orang dengan cukup membayar seorang tukang, namun hal itu tidak dilakukan karena ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam setiap prosesnya.

“Kalau sudah atapnya menggunakan genteng, dindingnya di tembok, maka kata guyub (kompak) tadi akan hilang, hanya dengan hal yang sederhana katakan membuat gubuk, itu bisa membangkitkan kekompakan, seperti juga atap yang harus menggunakan jerami, mengapa jerami? karena jerami dihasilkan dari tumbuhan yang hidup, kalau mau maka otomatis harus menanam. Itulah hebatnya” Tutup Aekanu (*)

Lokasi : Desa Adat Kemiren Kecamatan Glagah, Banyuwangi
- Advertisment -

Kirim Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here