Beranda Kabar Wisata Pesona Aceh Serambi Mekah Saat Ngabuburit

Pesona Aceh Serambi Mekah Saat Ngabuburit

0

Sumber daya alamnya sangat melimpah. Gas alam, minyak bumi dan tempat wisata di mana-mana. Ragam budaya tak usah dipertanya. Kekentalan agamanya sudah menggema. Aceh serambi mekah julukannya.

Yups, provinsi paling barat ini memang terkenal dengan sumber daya alamnya yang melimpah, kebudayaannya yang berwarna, mulai dari tari-tarian, bahasa, sampai kuliner khas. Corak keberagamaannya pun sangat kental karena menerapkan hukum syariat Islam.

Oleh karena itu, suasana Aceh menyerupai negeri-negeri Arab di Timur Tengah. Apalagi saat bulan puasa. Warga memenuhi sudut-sudut masjid untuk beribadah. Anak-anak hilir-mudik bermain di pelataran sembari ngabuburit menunggu adzan Magrib.

Selain sebagai tempat ibadah, masjid juga merupakan salah satu destinasi wisata religi saat bulan puasa. Masjid yang selalu ramai dikunjungi di Banda Aceh ialah Masjid Baiturrahman.

Tak hanya masjid, spot ngabuburit lain yang sangat menarik dan sering dikunjungi orang di Aceh ialah Pantai Ulee Lheue dan Museum Tsunami.

Pantai Ulee Lheue

Ngabuburit atau aktivitas menunggu adzan Magrib saat bulan puasa memang menjadi kegiatan favorit masyarakat Indonesia selama Bulan Ramadhan.

Masyarakat Indonesia biasanya mengisi waktu ngabuburit itu dengan kegiatan yang bermacam-macam, seperti Tadarus al-Quran, jalan-jalan santai sambil berburu takjil di sepanjang jalan atau ada juga yang bersantai ria di tepi pantai, seperti yang dilakukan oleh beberapa warga Aceh ini.

Pantai yang kerap kali jadi incaran warga Aceh untuk ngabuburit ialah Pantai Ulee Lheue. Di pantai ini mereka bersantai menatapi gelombang ombak memecah batu karang, merasakan segarnya angin samudera, mencoba merekayasa waktu hingga kumandang adzan Magrib itu tiba.

Yups, puasa kali ini kebetulan saya sempat berkunjung ke Kota Banda Aceh. Memang benar, kalau Pantai Ulee Lheue sangat ramai dikunjungi warga meski sedang berpuasa. Pantai ini  merupakan spot ngabuburit populer warga Aceh.

Lokasinya yang berdekatan dengan pusat kota, Masjid Baiturrahman dan Museum Tsunami membuat pantai ini tak pernah sepi selama Bulan Ramadhan. Tak hanya itu, daya tarik lainnya karena pantai ini dikelola dengan baik, lingkungannya sangat bersih dan air lautnya jernih.

Hmmm… meski keindahan pantainya masih sangat mempesona, namun bayangan pilu Enam Belas tahun lalu masih terlihat jelas. Pantai Ulee Lheue ini salah satu tempat yang terdampak musibah tsunami tahun 2004 silam. Kerusakannya sangat parah.

Waktu itu saya masih anak-anak dan tempat tinggal saya di Pulau Jawa, tapi kehebohan musibah yang menimpa Aceh itu tersiar langsung di TV dan sangat jelas tergambar betapa porak-porandanya bangunan-bangunan kokoh tersapu oleh ganasnya air laut. Bahkan salah satu kapal besar di sana sempat terseret sejauh 2,4 km ke daratan.

Meski begitu, warga Aceh tetap optimis dan bangkit dari keterpurukan itu yang mungkin masih menyisakan trauma yang begitu dalam. Lambat laun, akhirnya kondisi Aceh pulih kembali, termasuk beberapa pantai yang jadi kawasan wisata sudah bisa dikunjungi, salah satunya Pantai Ulee Lheue ini.

Lokasinya terletak di Desa Ulee Lheue, Kecamatan Meuraksa, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Dari pusat kota jaraknya 3 km. Nama Ulee Lheue diambil dari nama desa di mana pantai ini berada.

Pantai Ulee Lheue diapit oleh dua laut. Di sebelah selatan berhadapan dengan Samudera Hindia dan di sebelah utara berhadapan dengan Laut Andaman.

Dulu, pantai ini memiliki pasir pantai berwarna putih dan teksturnya sangat lembut. Sekarang pasir putih itu hilang tersapu tsunami. Sebagai gantinya, kini Pantai Ulee Lheue memiliki pasir hitam yang lembut. Menurut masyarakat, pasir hitam ini berkhasiat dan bisa menyembuhkan penyakit.

Di sisi lain, kita akan melihat bentangan tanggul menghiasi bibir pantai yang membuat gelombang ombak menjadi tenang.

Yups, ombak di Pantai Ulee Lheue memang dikenal tenang, berbeda dengan pantai-pantai lain yang memiliki gelombang ombak deras.

Sore itu, minggu pertama puasa, kawanku mengajak jalan-jalan sore sambil menunggu adzan Magrib ke Pantai Ulee Lheue. Menurutnya, pantai ini merupakan tempat favorit untuk ngabuburit di Banda Aceh.

“Mulai dari anak-anak, remaja, muda-mudi dan orang tua berkumpul memenuhi sudut-sudut pantai ini menjelang buka puasa. Apalagi saat panorama sunset tiba, pengunjung bisa menikmati pesona senja sembari berbuka puasa”, jelasnya.

Tak berpikir lama, aku pun mengiyakan ajakannya. Toh, selama berada di sini aku belum pernah berkunjung ke pantai. Maklum, sejak berada di sini, aku langsung dihadapkan dengan komputer, hampir lupa kalau di Serambi Mekah ini banyak spot menarik untuk disinggahi.

Sementara itu, kawanku tengah memanaskan mesin motornya yang rencananya akan kita gunakan untuk menuju Pantai Ulee Lheue. Dari penginapan, kami hanya menghabiskan waktu sekitar 20 menit untuk sampai ke pantai ini.

Sepanjang jalan, kami disuguhkan dengan pemandangan alam Aceh yang khas, indah dan udaranya sejuk.

Singkat cerita, kami pun akhirnya sampai dan disambut langsung dengan landmark besar bertulisakan “Pantai Ulee Hleue”. Beberapa pengunjung terlihat berswafoto di depan landmark itu, mungkin sebagai bukti kalau mereka sudah pernah ke sana.

Beda halnya dengan kami. Kami langsung menikmati pesona pantai yang sebentar lagi akan menampilkan keindahannya, yakni sunset. Yups, sunset dan pantai adalah komposisi sempurna yang akan rugi jika kita lewati.

Selangkah demi selangkah kaki ini menyusuri pantai. Pantai yang dikelilingi perbukitan hijau, langit biru dan bangku-bangku lucu penjual makanan.

Deburan ombak bergelombang dengan tenang, memecah keheningan di antara para hamba yang sedang menunggu sayup-sayup suara adzan. “Syahdan, indah sekali pemandangannya”, ucapku.

Adapun spot populer yang sering dijadikan tempat ngabuburit ialah batu-batu penghalang gelombang ombak atau tanggul. Di sini para pengunjung biasanya berbuka puasa sambil menikmati pesona indah sunset Pantai Ulee Lheue.

Kudapan atau takjil bisa kita temukan di sekitar pantai. Bahkan ada penjual takjil yang sengaja menyediakan bangku dan kursi menghadap lautan untuk memanjakan para pengunjung yang sedang ngabuburit di tepi jalan.

Sebetulnya aktivitas yang bisa dilakukan di pantai ini tidak hanya itu saja, sama halnya dengan pantai-pantai lain, seperti berenang, menyusuri pantai, bersepeda air, dan lain-lain.

Namun karena sedang dalam suasana Ramadhan, aktivitas populer yang sering dilakukan masyarakat ialah ngabuburit sambil menikmati keindahan terbenamnya matahari di ufuk barat. Tapi, ada juga beberapa masyarakat yang ngabuburit sambil memancing di atas tanggul batu tadi.

Menunggu adzan sambil ngabuburit memang tak terasa, seakan-akan waktu bergulir dengan cepat, sayup-sayup adzan pun mulai terdengar dari tiap sudut kota.

Kami pun yang sebelumnya sudah memesan makanan di bangku yang menghadap lautan, akhirnya bisa melepas dahaga sembari menatap panorama senja.

Museum Tsunami Aceh

Untuk memperingati tragedi tsunami Aceh tahun 2004, pemerintah membuat museum dengan nama Museum Tsunami Aceh.

Museum hasil desain Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil ini berfungsi sebagai pusat pendidikan dan penelitian mitigasi bencana serta tempat perlindungan darurat andai tsunami itu terjadi lagi.

Bangunannya berkonsep Rumoh Aceh dan on escape hill serta memiliki nilai-nilai Islam, budaya lokal dan mengandung abstraksi tsunami.

Selain itu, bentuk bangunan ini juga memiliki dua makna. Makna pertama ialah jika museum dilihat dari atas, maka kita akan melihat bentuk museum yang merefleksikan gelombang tsunami.

Sedangkan makna kedua ialah jika museum dilihat dari bawah atau samping maka kita akan menemukan bentuk museum seperti kapal penyelamat dengan geladak yang luas sebagai escape building. Museum ini telah diresmikan oleh Presiden SBY pada tahun 2009.

Berbekal pengetahuan tersebut, esok harinya kami berencana ngabuburit ke museum ini. Selain karena bangunannya yang keren dan futuristik, keberadaan situs bersejarah seputar mitigasi juga menjadi daya tarik tersendiri untuk disinggahi.

Warga sekitar juga memanfaatkan museum ini untuk ngabuburit sambil menambah wawasan. Ada juga beberapa wisatawan nusantara maupun mancanegara yang sengaja berkunjung ke museum ini sebagai tujuan wisata. Yups, museum ini salah satu destinasi wisata anyar yang mampu menarik hati wisatawan.

Lokasinya terletak di Jalan Sultan Iskandar Muda, Sukaramai, Baiturrahman, Banda Aceh.  Dari Masjid Baiturrahman kita sudah sampai di museum ini hanya dengan berjalan kaki selama 11 menit saja. Kalau menggunakan sepeda motor, waktu tempuhnya hanya memerlukan 1-2 menit.

Tiketnya pun sangat murah dan terjangkau semua kalangan. Untuk anak-anak, pelajar dan mahasiswa tiketnya hanya Rp. 2.000. Untuk orang dewasa harganya Rp. 3.000, sedangkan untuk turis asing harga tiketnya Rp. 10.000.

Seperti biasa, aku dan kawanku janjian terlebih dahulu kalau ngabuburit di hari berikutnya kita akan mengunjungi Museum Tsunami Aceh. Esok harinya kawanku bilang sekitar jam 4 sore rencananya aku akan dijemput di penginapanku.

Singkat cerita, akhirnya kami pun sampai di Museum Tsunami dan hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit.

Setelah memarkirkan kendaraan dan membayar tiket, kami pun menyusuri lorong kecil dengan penerangan yang minim. Lorong kecil ini adalah pintu masuk ke bangunan yang memiliki interior megah tersebut.

Kita akan mendengarkan suara adzan dan percikan air di sepanjang lorong itu yang membuat batin kita terenyuh dan bulu kuduk merinding. Tak heran jika lorong ini disebut juga dengan ruang renungan.

Museum ini dilengkapi dengan 22 alat peraga, 7 maket dan 26 foto mengenai tsunami Aceh. Fasilitasnya pun sudah lengkap seperti ruang parkir, mushala, toilet, toko suvenir, pusat kuliner, ruang geologi, dan perpustakaan.

Ruangan lain yang tak kalah menarik untuk dikunjungi ialah ruangan The Light Of God (Cahaya Tuhan). Ruangan ini menyajikan puluhan ribu nama-nama korban tsunami Aceh yang tertulis apik di dinding.

Saat berada didalamnya, perasaan kami campur aduk antara sedih, pilu dan membuat bulu kuduk merinding karena penerangannya kurang dan disertai lantunan ayat al-Quran.

Selanjutnya kami mengunjungi Ruang Jembatan Harapan. Rutenya sengaja dibuat memutar agar semua pengunjung bisa merasakan dan membayangkan bagaimana perjuangan warga Aceh saat berusaha selamat dari bencana tsunami.

Di langit-langitnya terdapat 25 bendera negara yang telah berjasa membantu Aceh pascabencana tsunami.

Tak terasa, selama satu jam kami telah menyusuri tiap-tiap ruang bersejarah ini. Waktu pun menunjukkan pukul 5 sore. Itu artinya sebentar lagi waktu buka puasa akan tiba.

Kami berencana untuk buka puasa di Masjid Baiturrahman, sekalian menunaikan Shalat Magrib, Isya dan Shalat Terawih berjamaah di sana.

Masjid Raya Baiturrahman

Tak perlu memakan banyak waktu, akhirnya kami sudah berada di Masjid Raya Baiturrahman, masjid kebanggaan warga Aceh yang tetap kokoh meski diterjang gelombang tsunami.

Masjid ini terletak di pusat Kota Banda Aceh, tepatnya berada di Jl. Moh. Jam No. 1, Kp. Baru, Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Masjid ini juga merupakan simbol agama, budaya, kekuatan, semangat dan nasionalisme rakyat Aceh.

Sebagai informasi, masjid ini memiliki replika yang terletak di Taman Miniatur terbesar di dunia bernama Taman Minimundus di Klagenfurt, Karintia, Austria. Bangunan replika masjid ini benar-benar mirip dengan aslinya.

Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Raya Aceh juga menjadi tempat yang wajib dikunjungi wisatawan saat berkunjung ke Aceh, baik wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara.

Mereka berbondong-bondong berkunjung ke masjid ini untuk mempelajari sejarahnya, menikmati keindahan arsitekturnya, dan berswafoto di beberapa spot indah sekitar masjid.

Saat bulan puasa, banyak pengunjung yang sengaja datang ke masjid ini untuk ngabuburit dan berbuka puasa. Areanya yang luas dan memiliki taman yang indah membuat kita bisa bersantai dan duduk-duduk di sekitar masjid.

Tak terkecuali dengan kami, saat pertama kali kaki ini mendarat di area masjid, kami langsung berjalan santai menyusuri pelataran masjid. Sesekali kami duduk, memandang keindahan masjid yang megah yang keberadaannya sudah ada sejak Kesultanan Aceh.

Masjid ini juga memiliki 12 payung elektrik yang bisa mengembang besar sehingga teras masjid tak begitu terik dan membuat para jamaah betah dan nyaman menjalankan ibadah.

Waktu buka puasa tinggal sepuluh menit lagi, pengunjung pun semakin bertambah. Mereka mengantri untuk mendapatkan takjil gratis.

Yups, memang tiap bulan puasa Masjid Raya Aceh rutin membagikan takjil untuk berbuka puasa. Takjil yang paling khas yang sering disediakan masjid ini ialah Bubur Kanji.  Bubur Kanji atau Bubur Kanji Rumbi adalah makanan khas Aceh yang hanya ada di bulan puasa.

Bubur Kanji terbuat dari beras berkualitas tinggi dan dicampur dengan rempah-rempah serta sayur-sayuran. Masyarakat Aceh meyakini kalau Bubur Kanji selain mampu mengobati rasa lapar juga memiliki khasiat lain.

Khasiat Bubur Kanji yang sudah kadung dipercaya masyarakat Aceh ialah mampu mengobati penyakit seperti masuk angin dan maag.

Alasannya karena di dalam bubur ini terdapat rempah-rempah seperti jahe, daun serai, kunyit, dan lainnya yang dianggap mampu mengusir penyakit maag dan masuk angin.

Kami pun mendekati tempat yang sedari tadi dikerumuni pengunjung itu untuk ikut mengantri demi mendapatkan semangkuk Bubur Kanji, takjil khas Aceh.

Karena keindahan, kenyamanan dan kemudahan itu, Masjid Raya Baiturrahman menjadi tempat primadona bagi warga yang berpuasa.

Ngabuburit di Masjid Raya Baiturrahman selain mendapatkan keberkahan dan ilmu, juga membuat hati ceria karena keindahan dan kemegahan bangunan masjid yang sangat memanjakan mata dan rasa.

Dug..dug..dug.. tabuhan bedug sudah menggema, itu tandanya waktu Magrib sudah tiba dan sudah saatnya kita buka puasa. Akhirnya, kami buka puasa di Masjid Raya Aceh dengan takjil khasnya, Bubur Kanji. Hal ini memang merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi kami. ( Travel Club )

Selamat menunaikan ibadah puasa…

- Advertisment -

Tinggalkan Komentar