Beranda Kabar Usaha UMKM Pengusaha Sambal Menangis Kala Harga Lombok Meroket

Pengusaha Sambal Menangis Kala Harga Lombok Meroket

0

Jember, – Harga Lombok di pasaran selalu fluktuatif mengikuti kekuatan supply dan demand sesuai hukum ekonomi. Kala Supply melimpah niscaya harga lombok seperti harga kerupuk. Sedangkan kala supply berkurang karena banyak petani gagal panen dsb. Harga lombok menjadi seperti emas. Bahkan sempat dulu harga lombok diitung per biji (bukan ditimbang berdasar berat). Fluktuasi harga lombok menjadi fenomena tersendiri bagi rantai perdagangan lombok.

Lombok di Indonesia merupakan bahan pendamping pangan namun memiliki esensi yang besar bagi masyarakat. Hal ini mengingat masayrakat Indonesia terbiasa menggunakan bahan lombok sebagai bumbu dasar maupun sambal yang memang diminati oleh masyarakat. Masyarakat Indonesia penyuka pedas. Apalagi trend makanan saat ini bagi kaum milenial adalah makanan pedas dengan berbagai level kepedasan.

Naiknya harga lombok yang tak terkendali menjadikan para pengusaha yang berkaitan dengan bahan lombok menjadi kalang kabut. Termasuk para produsen sambel seperti salah satunya adalah produsen “Sambal Mbegor”. Produk Lokal Jember ini telah beredar di berbagai kota di Indonesia seperti Malang, Surabaya, Yogyakarta, Solo, Balikpapan, Samarinda, Jakarta, dan kota lainnya yang dijual melalui reseller-reseller yang ada. Bahkan “Sambal Mbegor” telah dikirim ke berbagai negara antara lain : Hongkong, Australia, Singapura dan Malaysia. Kebutuhan lombok dari produsen “sambal Mbegor” memang langsung dipasok dari pedagang pasar langganan dengan kebutuhan 50 – 80 kg /minggu.

Naiknya harga lombok seperti sekarang ini menyebabkan produsen “sambal Mbegor” harus pintar membuat strategi supply chain yang baik dan terukur sehingga tidak mengganggu aktifitas produksi “sambal Mbegor” dan tidak menolak order yang masuk sehingga pelanggan tidak kecewa. Strategi Supply Chain ini juga terkait dengan strategi marketiing manakala harga lombok melangit, demikian kata Yosie Ermawan, SH., MH. selaku produsen “Sambel Mbegor”.  Pengalaman 18 tahun menjadi banker di salah satu bank pemerintah dan juga pemilik Resto Bebek Mbegor ini membuatnya dapat membuat strategi bisnis guna mengantisipasi persoalan-persoalan bisnis termasuk permasalahan supply chain dalam dunia perlombokan/sambel.

Strategi plan tetap harus dibuat walaupun dalam skala UMKM, demikian ia tambahkan. Kelemahan UMKM rata-rata mereka hanya bisa membuat produk tanpa melakukan riset terlebih dahulu seperti riset target pasar, riset produk, riset supply, dll. Umumnya mereka terlalu yakin dengan hasil produknya tanpa ada pertimbangan pasar, dsb. Saat mereka terjun langsung dan telah mengeluarkan banyak biaya dan modal, ternyata muncul masalah-masalah pasar yang tidak cocok/tepat atau juga masalah bahan baku yang sulit didapat. Demikian kata produsen “Sambal Mbegor” ini.

Mau tahu ulasan-ulasan bisnis dari Yosie Ermawan, SH. MH., simak aja terus Media 9 dan bisa juga ajukan tanya jawab melalui media ini. ( yosie )

 

Tinggalkan Komentar