Beranda Kabar Terkini Peneliti Asal Singapura Kenalkan Teknologi ” Busa Pintar ” Untuk Deteksi Kepekaan...

Peneliti Asal Singapura Kenalkan Teknologi ” Busa Pintar ” Untuk Deteksi Kepekaan Indra Pada Robot

0

MEDIA9 – Di tengah Pandemi Covid-19 yang sedang melanda di hampir seluruh dunia saat ini tak menyurutkan tekad para peneliti asal Singapura. Sebut saja salah satunya ialah Benjamin Tee.

Menurut para peneliti asal National University of Singapore, tujuan dari pengembangan bahan busa pintar ini adalah membentuk tingkat kepekaan yang memungkinkan robot agar dapat merasakan objek yang berada di dekatnya.

Tak hanya itu, ternyata fungsi dari busa pintar tersebut dapat memperbaiki body robot ketika rusak. Artinya, layaknya kulit manusia yang terkena benda tajam/tumpul lainnya dan menyebabkan permukaan kulit tergores, lama kelamaan akan kembali seperti semula. Hal inilah yang dihasilkan dari busa pintar pada permukaan body robot.

Dilansir dari artikel republika.co.id, jenis busa yang digunakan ialah AiFoam atau busa yang diinervasi secara artifisial. Dengan demikian, iFoam merupakan polimer yang sangat elastis. Pembuatan bahan AiFoam yakni dengan mencampurkan fluoropolimer dengan senyawa yang menurunkan tegangan permukaan.

Menurut pemimpin dari penelitian ini, Benjamin Tee, mengatakan bahwa teknik pembuatan tersebut memungkinkan bahan spons akan menyatu dan kembali seperti semula dengan cepat ketika dipotong.

“Ketika saya menggerakkan jari saya di dekat sensor, maka Anda akan dapat melihat sensor mengukur perubahan medan listrik saya, kemudian merespons sentuhan dari saya,” tuturnya.

Tee juga menambahkan, bahwa fitur ini memungkinkan tangan robot untuk mendeteksi jumlah dan arah gaya yang diterapkan. Oleh karena itu, hasil yang ditimbulkan robot akan berpotensi lebih cerdas dan interaktif.

“AiFoam merupakan penemuan pertama dari jenisnya yang menggabungkan dua sifat, yakni penyembuhan diri dan kedekatan sekaligus pada pengindraan tekanan,” tambahnya.

Jadi, perlu diketahui bersama bahwa penemuan dan pengembangan Aifoam ini ternyata sudah menguras waktu lebih dari dua tahun. Tee beserta tim berharap jika materi tersebut dapat digunakan secara praktis dalam waktu hingga kurun waktu lima tahun. Selasa, (13/7/21).

(AnnisaR)

- Advertisment -

Kirim Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here