Beranda Kabar Terkini Nenek Sumirah Meski Jari Tangan dan Kaki Tidak Sempurna, Hidup Berjuang Mengais...

Nenek Sumirah Meski Jari Tangan dan Kaki Tidak Sempurna, Hidup Berjuang Mengais Rezeki Dari Membuat Sapu Lidi

0

JEMBER – Hidup dalam kemiskinan, tidak membuat Nenek Sumirah (65) warga RT 01 RW 11 Dusun /Desa Selodakon, Kecamatan Tanggul ini menyerah menjalani hidup. Dengan kondisi fisik tidak memiliki jari tangan dan kaki,  yang diduga karena penyakit, juga ditambah umur semakin renta, nenek yang kini juga hidup sebatang kara itu mengaku tidak pernah menyerah.

Memilih menjadi pengrajin sapu lidi demi mencukupi kebutuhan sehari-hari, dilakoninya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Dengan penghasilan yang kadang sehari hanya mendapat Rp 10 ribu dari membuat sapu lidi, dirasa kurang cukup. Tetapi nenek ini mengaku hanya bisa pasrah, dan bersyukur dengan apa yang didapat.

“Saya sehari-hari bekerja membuat sapu lidi, per hari bisa dapat 5 buah sapu yang dijual ke pengepul. Per satuannya itu dihargai Rp 2 ribu. Jadi sehari bisa dapat Rp 10 ribu. Alhmdulillah,” kata Nenek Sumirah saat ditemui di gubuk reotnya yang berdinding gedek (anyaman bambu) berukuran 4 x 5 meter persegi itu.

Setiap harinya, Nenek Sumirah berjalan sejauh 100 meter ke kebun kelapa milik tetangga, untuk mengambil daunnya yang jatuh sebagai bahan membuat sapu lidi. Namun terkadang jika nenek ini dirumah dan tidak mampu bekerja karena sakit, beberapa orang warga datang mengantarkan daun pohon kelapa itu.

“Biasanya waktu saya tidak bisa keluar, maklum umur semakin tua, jadi sakit-sakitan,” akunya.

Saat ditanya kemana suami dan anak-anaknya, dirinya hanya menyampaikan sudah lama meninggal. “Sudah lama dulu suami saya meninggal, anak juga sama. Kalau ditanya kapan meninggalnya, dulu sudah. Lupa saya,” katanya.

Kini dengan kondisinya yang bergelut dengan kemiskinan itu, hanya bisa disyukuri olehnya. Terkadang dari tetangga kanan kiri, membantunya dengan mengantar makanan.

Lebih jauh terkait kondisi jari tangan dan kakinya yang tidak sempurna, Nenek Sumirah hanya mengaku sakit, namun tidak tahu sakit apa yang dideritanya karena belum pernah diperiksanya ke dokter ataupun puskesmas.

“Tidak punya uang nak untuk berobat. Jadi ya gini ini. Ditanya sejak kapan jari-jari saya hilang (tangan dan kaki). Saya lupa kapan! Kadang sakit senut-senut ini jari-jari saya,” ungkapnya.

Dengan kondisi serba kekurangan itu, Nenek Sumirah memilih untuk tetap bekerja. Tanpa mengharap selalu mengemis bantuan dari pemerintah.

“Saya tidak pernah dapat bantuan apa-apa dari pemerintah. Apalagi pak tinggi (kepala desa, red). Pokoknya tetap bekerja dan mendapat penghasilan cukup,” ujarnya. ( atta )

Tinggalkan Komentar