Beranda Kabar Wisata Budaya Mengenal Tradisi dan Budaya Sapar-Saparan Desa Pondoknongko

Mengenal Tradisi dan Budaya Sapar-Saparan Desa Pondoknongko

0

Banyuwangi – Sapar-saparan merupakan tradisi adat masyarakat pantai atau nelayan.

Masyarakat meyakini, dengan adanya kegiatan Sapar-saparan yang biasa dilaksanakn di bulan Shofar atau bulan kedua dalam kalender Hijriah, bisa menolak balak atau musibah di wilayah setempat.

Selain itu, juga sebagai bukti syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan berkah, berupa nikmat dan rejeki hasil laut yang melimpah.

Acara tahunan Sapar-saparan ini dilaksanakan oleh Desa Pondoknongko, Kecamatan Kabat. Warga setempat menamakan, Rabu Wekasan, atau hari Rabu Terakhir pada bulan Sapar/Shofar. Pada acara ini, sekaligus bersamaan dengan ‘Petik Laut’.

Namanya juga tradisi adat dan budaya, memang tidak bisa ditinggalkan. Masyarakat setempat meyakini, jika setiap tahunnya telah ada kegiatan serupa, maka di tahun selanjutnya harus diadakan, itu telah menjadi budaya atau kebiasaan mereka.

Misalkan libur atau absen untuk meniadakan kegiatan satu tahunan tersebut, masyarakat meyakini bisa jadi ada halangan atau cobaan yang menimpa. Oleh karenanya, warga terus melaksanakan dan melestarikan kegiatan yang mengandung unsur kearifan lokal tersebut.

Hari Rabu terakhir bulan Safar dalam hitungan bulan masehi, jatuh pada tanggal 14 oktober 2020. Walaupun ada dalam tahun pandemi Covid-19, tidak menjadi halangan melestarikan tradisi ini. Panitia kegiatan telah melengkapi kebutuhan Protokol Kesehatan, seperti Thermogun, handsanitizer, faceshield, masker, tempat cuci tangan dan sabun serta pengumuman untuk tetap menjaga jarak.

Pelaksanaan tradisi Sapar-saparan tahun ini, sekaligus sebagai acara peresmian Pantai Wisata Kedung Derus. Sengaja kegiatan ini disatukan, agar warga luas yang melihat pelaksanaan tradisi Sapar-Saparan, sekaligus mengetahui adanya tempat Wisata Baru di Desa Pondoknongko, Kecamatan Kabat.

Panitia kegiatan yaitu dari Bumdes Makmur, Pokdarwis Pondoknongko, Pokmaswas Deling Seganten dan Pemerintah Desa Pondoknongko bekerjasama menghasilkan kegiatan Sapar-Saparan dan Peresmian Pantai Wisata Kedung Derus. Gerakan masyarakat membangun tempat wisata baru ini, kelak bisa menjadi masukan bagi warga dan Desa.

Hamdan Ramahurmuzi, Kepala Desa Pondoknongko dalam sambutannya mengatakan, jika tradisi yang sudah menjadi budaya bagi warganya harus tetap dilaksanakan.

“Tradisi adat dan Budaya harus tetap dilestarikan, agar tidak hilang atau mengalami penyisihan, mengingat Desa di Kecamatan Kabat yang memiliki pantai ini hanya satu, yaitu Desa Pondoknongko.” Kata Hamdan

Camat Kabat, Susanto Wibowo memaparkan, menghidupkan potensi Desa merupakan salah satu jalan yang bagus.

“Apalagi Banyuwangi sudah terkenal di bidang potensi wisatanya. Pantai Kedung Derus perlu dikembangkan, untuk menjadi Icon Kecamatan Kabat.” Jelas Susanto Wibowo

Dalam kesempatan itu, Camat Kabat mengingatkan seluruh masyarakat, agar mematuhi protokol kesehatan dimanapun berada. Camat juga bercerita tentang prestasi Pemkab Banyuwangi, karena telah mendapat penghargaan nomer satu dari Pemerintah Pusat.

Dalam kegiatan tersebut, juga dihadiri oleh Perwakilan Dinas Perikanan dan Pangan, Edy Widiantoro selaku Kasi Kenelayanan, menguraikan panjang lebar tentang Kedung Derus.

Menurut Edy, Dinas Perikanan dan Pangan telah mendampingi Kedung Derus selama 4 tahun. Awalnya KUB, tetapi karena kelompok ingin menjalankan kegiatan konservasi, maka diubah nama kelompoknya yaitu Pokmaswas atau Kelompok Masyarakat Pengawas.

“Saya selalu ingat nama Kedung Derus, karena perahunya yang unik dari Bambu. Nelayan manapun tidak memiliki, hanya ada di Pondoknongko. Sesuai keunikannya yaitu perahu bambu, maka nama pokmaswasnya Deling Seganten (Jajang Segara) atau Bambu Laut. Memang berani nelayan sini berlayar di tengah laut menggunakan perahu bambu.” Jelas Edy Widiantoro

Kegiatan sapar-saparan, diisi selametan 100 Ancak, atau tempat menggunakan pelepah pohon pisang. Ini sebagai bentuk melestarikan sejarah, sekaligus untuk mengurangi sampah plastik. Setelah Ancakan 100, dilanjutkan menanam bibit pohon Cemara Udang, bibit Pandan Laut, bibit bakau dan larung terumbu karang.

Tidak seperti umumnya larung yang menggunakan kepala sapi atau kerbau, namun di Wisata Kedung Derus menggunakan Terumbu Karang Buatan (TKB). Tujuannya, agar dihuni beranekaragam ikan. Manfaat jangka panjangnya, dapat digunakan masyarakat dengan mengambil ikan-ikan tersebut.

Kegiatan Sapar-saparan tersebut juga dihadiri oleh beberapa kedinasan, seperti Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Dinas Perikanan dan Pangan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Bank Sampah, Dinas Lingkungan Hidup, Akademi Penerbang Indonesia Banyuwangi (APIB), Forpimka Kecamatan Kabat (Camat, Kapolsek, Danramil), dan jajaran Kepala Desa Se-Kecamatan Kabat. (Adv) Andi SK/*

Gamabar : https://kabarbanyuwangi.co.id/tradisi-sapar-saparan-desa-pondoknongko-kabat-melarung-trumbu-karang-buatan/
- Advertisment -

Kirim Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here