Beranda Gaya Hidup Mengenal Kawasan Suaka Marga Satwa Rimbang Baling

Mengenal Kawasan Suaka Marga Satwa Rimbang Baling

0

Jakarta, Kawasan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, menjadi perbincangan hangat terkait rencana pembangunan jalur interpretasi yang akan menghubungkan 12 desa di kawasan tersebut demi pengembangan pariwisata.

Rencana pembangunan jalan itu mendapat penolakan dari Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Riau, Fahmizal Usman, yang khawatir akan disalahgunakan jadi jalur pembalakan hutan secara ilegal lantaran aktivitas ilegal itu masih kerap terjadi di kawasan tersebut.

Daerah yang berbatasan dengan Provinsi Sumatera Barat ini ditetapkan sebagai kawasan konservasi sesuai Surat Keputusan (SK) Gubernur Riau Nomor 149/V/1982.

Mengutip situs Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, sebelum ditetapkan sebagai kawasan suaka margasatwa, di kawasan ini terdapat beberapa perusahaan pengusahaan hutan maupun Batubara yang beroperasi.

Bukit Rimbang Bukit Baling ditunjuk sebagai kawasan suaka alam dikarenakan areal hutan di sekitar Bukit Rimbang Bukit Baling memiliki fungsi suaka margasatwa dan sumber mata air yang perlu dibina kelestariannya, untuk kepentingan pengaturan tata air, pencegahan bahaya banjir, tanah longsor dan erosi.

Tak hanya itu, Rimbang Baling juga menjadi rumah bagi beragam spesies fauna yang dilindungi dan terancam punah seperti Harimau Sumatera, Tapir, Siamang dan lainnya.

Melihat potensi tersebut, BBKSDA Riau merancang wisata konservasi di habitat harimau dalam kawasan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling di Kabupaten Kampar.

Kepala BBKSDA Riau, Suharyono, mengatakan nantinya akan ada pusat pembiakan rusa di Desa Aur Kuning, satu dari 12 desa yang sudah ada di landskap Bukit Rimbang Baling jauh sebelum pemerintah menetapkan habitat asli harimau sumatera seluas 143 ribu hektare itu sebagai kawasan suaka margasatwa.

Suharyono menjelaskan selanjutnya wisatawan yang mengunjungi Suaka Margasatwa (SM) Bukit Rimbang Baling, bisa berkunjung ke Desa Aur Kuning untuk membeli rusa dan melepaskannya ke hutan supaya bisa menjadi mangsa harimau.

“Beli rusa bukan buat dimakan, tapi dilepas ke hutan sebagai pengganti pakan harimau,” kata Suharyono, seperti yang dikutip dari Antara, Selasa (30/4).

Menurutnya Rimbang Baling adalah satu dari delapan kawasan hutan konservasi di Riau yang potensial menjadi destinasi pariwisata berbasis sumber daya alam. Pengembangan wisata di suaka margasatwa itu, ia melanjutkan, sejalan dengan upaya Kementerian Lingkungan Hidup menggeser paradigma pemanfaatan hutan ke arah pariwisata.

BBKSDA Riau berencana menonjolkan kekhasan setiap desa di SM Rimbang Baling guna mendukung pengembangan wisata konservasi.

“Seperti di Desa Terusan ada kerajinan perahu, jadi nanti setiap desa punya spesifikasi sendiri, keunggulan wisata sendiri,” katanya.

Untuk menuju kawasan SM Bukit Rimbang Bukit Baling dapat ditempuh melalui Desa Gema, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar yang berjarak sekitar 100 km atau sekitar 2 – 2,5 jam dari Kota Pekanbaru, Provinsi Riau.

Akses masuk ke dalam kawasan selanjutnya menggunakan perahu (akses sungai) kurang lebih setengah jam menuju Desa Muara Bio yang merupakan pintu masuk kawasan SM Bukit Rimbang Bukit Baling.

Sementara jalur lain menuju SM Bukit Rimbang Bukit Baling dapat ditempuh melalui kantor resort Bukit Rimbang dan Bukit Baling di Desa Petai, yang berjarak ± 120 km atau sekitar 3 – 3,5 jam dari Kota Pekanbaru ke Kecamatan Singingi Hilir, Kabupaten Kuantan Singingi dengan menggunakan transportasi darat.

Dari kantor resort menuju akses terdekat masuk dalam kawasan SM Bukit Rimbang Bukit Baling yaitu Sungai Tapi yang merupakan ujung dari kawasan SM Bukit Rimbang Bukit Baling berjarak kurang lebih 12 km dengan menggunakan transportasi darat.

Selain itu terdapat akses jalan yang dapat dilalui kendaraan besar seperti mobil dan truk menuju Desa Pangkalan Indarung yang berbatasan langsung dengan kawasan SM Bukit Rimbang Bukit Baling. CNN Indonesia

Tinggalkan Komentar