Beranda Kabar Wisata Masyarakat Cungking Gelar Tradisi Resik Kagungan

Masyarakat Cungking Gelar Tradisi Resik Kagungan

0

Banyuwangi – Setiap tahun pada Kamis di pertengahan bulan Rajab di penanggalan Jawa, masyarakat Cungking, Banyuwangi,  menggelar acara Resik Kagungan,  Kamis (25/02/2021) di Tajug, Cungking.

Masyarakat membersihkan pusaka peninggalan Buyut Cungking yang merupakan leluhur masyarakat Cungking. Selain itu, acara ini dilakukan sebagai sarana untuk mengharap keselamatan untuk seluruh masyarakat.

Resik Kagungan diawali dengan acara melekan pada malam sebelumnya untuk menyiapkan konsumsi di Resik Kagungan serta menyiapkan hal-hal yg diperlukan untuk ritual.

Acara dimulai dengan memakan jenang wonopuro. Jenang wonopuro melambangkan permohonan maaf dari masyarakat Cungking untuk leluhur jika selama acara Resik Kagungan ada salah dan celah. Seluruh orang yang hadir diwajibkan untuk memakan atau mencicipi makanan ini.

Ritual dilanjutkan dengan pengambilan pusaka yg disimpan di Tajug. Pusaka  terdiri dari beberapa macam, dan disimpan di kain putih, antara lain: keris kagungan, sangku, layang, sirip ikan agung, endog kebo, krikil suwargo, krikil madinah, tepung gelang, dan greto.

Keris kagungan dibersihkan dengan jeruk nipis, bubuk katul, dan serutan bambu. Saat membersihkan Keris Kagungan, juru kunci, Mbah Jam’i akan menjelaskan tanda yang terdapat pada keris kagungan tersebut. Konon, jika keris tersebut dibuka dari pembungkusnya dan didapati karat di bagian tertentu, maka menurut juru kunci akan terjadi hal besar.

“Karat iki sebagai mitondo, petunjuk, pituduh. Keterangane antara ndek dunia iki (Indonesia) rodok bersinar. Penyakit-penyakit iki rodok merendah (Karat yang ada di keris ini sebagai pertanda dan petunjuk. Keterangannya antara di dunia ini, terutama Indonesia penyakit agak rendah/reda),” Ucap Mbah Jam’i ketika membersihkan keris.

Menurut Mbah Jam’i, noda karat pada tahun lalu terletak pada keris bagian atas yang menandakan bahwa akan terjadi hal buruk di pemerintahan. Sedangkan tahun ini, karatnya berada di pangkal keris dan nodanya tidak sebanyak tahun lalu. Hal tersebut menandakan bahwa tahun ini lebih cerah atau lebih baik daripada tahun lalu.

Acara dilanjutkan dengan membersihkan pusaka lainnya menggunakan air. Air yang setelah digunakan untuk membersihkan pusaka dipercaya masyarakat Cungkin dan sekitarnya dapat membuat awet muda, mendatangkan rezeki, dan kesehatan. Masyarakat berbondong-bondong berebut air tersebut dengan membawa botol masing-masing untuk dibawa pulang.

- Advertisment -

Kirim Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here