Beranda Kabar Usaha Keuangan Kesalahan Entrepreneur Muda Mengelola Keuangan

Kesalahan Entrepreneur Muda Mengelola Keuangan

0

Jember – Belakangan ini jumlah pengusaha muda makin banyak. Tentu, ini hal yang menggembirakan. Sebab, pola pikir anak  muda kini tak lagi terpaku pada bagaimana mendapatkan pekerjaan setelah lulus sekolah, tapi mulai bergeser pada bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan. Dengan kondisi jumlah pengusaha di Indonesia. Yang masih kurang dari jumlah ideal, konon, menurut penuturan pengusaha senior Indonesia, Ciputra, jumlahnya minimal 2% dari total penduduk tentu minat jadi pengusaha ini patut di syukuri.

Sayangnya, kadang “darah muda” dan semanggat menggebu dari anak-anak muda acap kali tak di barengi dengan perhitungan yang matang. Akibatnya yang dibangun belum berkembang, sudah layu duluan.

Salah satu factor yang sering kali membuat “layu  sebelum berkembang” ini adalah kondisi dan perencanaan keuangan yang sering kali serampangan. Untuk itu, sebenarnya ada beberapa hal yang patut diwaspadai untuk para pengusaha muda dalam menentukan orientasi keuangannya. Berikut beberapa di antarannya…

Berinvestasi melebihi yang dibutuhkan

Banyak anak muda yang ingin langsung terlihat “wah” pada saat kali pertama membuka bisnis. Ini memang bisa di maklumi, karena mereka ingin terlihat atau dilihat orang. Karyaawan langsung banyak, sewa kantor di lokasi yang mahal, furniture dan perlengkapan kantor yang serba modern. Tak salah memang, sepanjang bisnis yang dijalankan bisa segera menghasilkan dengan dukungan “penampilan” tersebut ttapi, sayangnya, menurut Alexa von Tobel, CEO dari LearnVest.com, sebuah perusahaan konsultan keuangan, menyebut banyak pengusaha muda yang justru focus pada “penampilan” di banding untuk memaksimalkan produk yang di jual. Karena itu, Tobel mengingatkan, agar focus pada produk dan layanan, karena jika itu kurang bagus, hasil yang didapat pun tak akan maksimal.

Mengurangi biaya-biaya pada bidang yang di anggap bisa diselesaikan sendiri

Anak muda sering kali menggampangkan sesuatu. Bahkan, mereka kadang bisa menjadi sosok “si tuan tahu segalanya”. Sehingga, ada beberapa hal penting yang sering di lupakan (baca: dikesampingkan), seperti misalnya soal mengatur laporan keuangan dan pajak. Saking semangatnya, kadang uang yang tercampur antara untuk bisnis dan kesenangan pribadi membuat laporan keuangan jadi kacau. Akibatnya, saat harus membayar pajak usaha, ada beberapa kondisi yang membuat perusahaan terkena denda. Karena itu, menurut Eric Jhonson, penasihat keungan dari Signature, sebuah perencanaan keuangan yang berbasis Norfolk Amerika, menyebutkan perlunya menyewa tenaga ahli untuk mengatasi berbagai hal semacam ini.

Tidak menggaji diri sendiri

Karena sangat bersemangat untuk melakukan apa pun demi kemajuan perusahaan, kadang kita tidak memedulikan apakah kita digaji atau tidak. Yang penting, usaha untung duluan. Tak salah memang. Namun, jika kebiasaan ini di teruskan, maka hal tersebut menurut Diana Ransom seorang penulis masalah usaha kecil di berbagai media besar seperti The Wall Street Journal dan The New York Daily News bisa memicu kebiasaan kekacauan pada penempatan uang. Yakni, kadang karena merasa sangat butuh uang, tanpa di sadari, pemilik usaha mengambil uang perusahaan karena selama ini merasa tidak di gaji. Jika dibiasakan terus, hal tersebut lama-kelaman akan mengganggu jalannya usaha.

Tidak merencanakan kemungkinan kondisi paling buruk

Menurut Johnson, aada banyak anak  muda yang merasa dirinya “anti peluru” alias tahan badai guncangan yang bisa meruntuhkan usaha. Karena itu, mereka cenderung tak bisa meruntuhkan usaha. Karena itu, mereka cenderung tak mempersiapkan diri saat situasi memburuk. Nasihat Johnsin, meski saat muda masih banyak kesempatan untuk memperbaiki kinerja, tetap siapkan rencana paling buruk sebagai langkah antisipasi.

Mencampurkan asset pribadi dan perusahaan

Kondisi di mana anak muda masih mengawali usaha biasanya malas untuk memisahkan asset pribadi dan perusahaan. Akibatnya, saat terjadi masalah utang ke bank misalnya maka asset pribadi pun bisa ikut hilang untuk membayar utang. Karena itu, sangat di sarankan untuk memisahkan asset-aset tersebut agar jangan sampai kita membayar semua kerugian yang terjadi pada usaha, dengan uang kita.

Menggunakan kartu kredit pribadi untuk kepentingan bisnis

Sekali lagi, urusan bisnis adalah urusan bisnis, jangn campur adukan dengan urusan pribadi. Maka, jika ingin membeli barang atau asset untuk perusahaan, gunakan uang perusahaan.

Memanfaatkan uang perusahaan melebihi kapasitas

Ada kalanya, saat usaha seperti berjalan seperti yang diharapkan bahkan menghasilkan keuntungan berlibat nafsu beli ini dan itu pun menggelora. Yang seharusnya cukup punya komputer standart untuk mengetik dan mencetak dokumen, langsung membeli komputer paling canggih tanpa bisa memaksimalkan kegunaannya. Jika hal ini di teruskan, akan ada ketimpangan dalam usaha yang bisa merusak potensi keuntungan membesarkan usaha. (luarbiasa)

 

Tinggalkan Komentar