Beranda Kabar Desa Inovasi Ketahanan Pangan Bagi Keluarga Berbasis Sumber Daya Lokal

Inovasi Ketahanan Pangan Bagi Keluarga Berbasis Sumber Daya Lokal

0

LUMAJANG – Dalam masa pandemi Covid-19 seperti ini, Dinas Ketahanan Pangan (Ketapang) Kabupaten Lumajang menyelenggarakan kegiatan pelatihan Olahan Makanan Berbasis Inovasi, kepada sejumlah pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dari Kecamatan Pasrujambe dan Kecamatan Senduro.

Hal ini dilakukan dalam rangka meningkatkan semangat bangit dari keterpurukan menuju arah kemandirian, dari kekurangan menuju arah ketercukupan akibat wabah virus corona ini.

Menurut Kepala Desa Pasrujambe, Kecamatan Pasrujambe, Sugianto, kepada media ini menyampaikan kalau kegiatan pelatihan dari Dinas Ketapang ini sangat bermanfaat, demi menunjang pola pikir inovasi dari masyarakat Desa Pasrujambe dan sekitarnya dalam ikut meningkatkan ketahanan pangan keluarga berbasis sumber daya lokal ini.

“Kegiatan ini jelas sangat bermanfaat bagi warganya, sebab semasa pandemi Covid-19 ini, masyarakat lebih banyak meluangkan waktunya mengolah sumber daya lokal menjadi produk olahan yang sangat bermanfaat dan meningkatkan pendapatan mereka,” ungkap Sugianto.

Kades Pasrujambe Memperkenalkan Salah Satu Olahan Produk UMKM Masyarakat Desa Pasrujambe

Ada beberapa jenis produk olahan dari Desa Pasrujambe yang sudah bisa dinikmati, seperti sambel teropong yang bahan bakunya melimpah ruah, yaitu bawang daun.

“Bawang daun ini merupakan jenis sayuran dari kelompok bawang yang banyak digunakan dalam masakan. Dalam masakan Indonesia, bawang daun bisa ditemukan misalnya dalam martabak telur, sebagai bagian dari sup, atau sebagai bumbu tabur seperti pada soto, namun di Desa Pasrujambe, malah dibuat sambal yang mempunyai cita rasa nikmat,” ungkap Sugianto.

Awalnya, dikatakan pria penghobi motor trail ini, ada sekitar 11 ribu polibag tanaman bawang daun, dan beberapa waktu mendatang, Pemerintah Desa sudah menyiapkan 75 ribu polibag yang akan ditaruh pada sejumlah rumah tangga.

Dan dari sisi pemasaran, Sugianto sudah menyiapkan wadah untuk menampung semua produk-produk UMKM di Desa Pasrujambe melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Lestari Semeru.

“Kami sebagai Pemerintah Desa sudah siap menampung semua produk-produk olahan dari para pelaku UMKM, seperti Sambel Teropong, olahan Ubi Madu, bahkan saya ingin seperti produk kopi rabusta organik yang sudah booming di luar kota bahkan akan ke luar negeri,” tukasnya.

Kepala Dinas Ketapang Kabupaten Lumajang, Hertutik, bahwa pihaknya merasa bangga karena masyarakat Pasrujambe dan Senduro sangat sadar dalam mengikuti pelatihan ini.

“Alhamdulillah kami merasa bangga kepada masyarakat, karena kesadarannya, mereka yang masih guyub dan rukun untuk bisa mengikuti acara ini,” kata Hertutik kepada media ini usai membuka acara tersebut.

Dikatan pula, bahwa pada kegiatan ini, diharapkan dapat mewujudkan ketahanan pangan bagi keluarga di wilayah Kecamatan Pasrujambe dan Kecamatan Senduro. Dan sesuai dengan Peraturan Bupati (Perbup), bahwa suatu daerah diminta untuk bisa mewujudan penganekaragaman pangan yang berbasis sumber daya lokal.

“Kegiatan ini menggunakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) Tahun 2020 Bidang Ketenagakerjaan,” papar mantan Camat Sumbersuko ini.

Kegiatan ini, menurut Hertutik, juga akan menambah keterampilan dari para ibu-ibu rumah tangga agar dapat meningkatkan penganekaragaman pangan dengan mengurangi konsumsi beras dan terigu. Dengan kata lain, keluarga diminta untuk meningkatkan konsumsi aneka produk berbasis pangan lokal seperti umbi, buah, sayuran serta pangan hewani.

“Kegiatan ini masih sinergi dengan program pemanfaatan pekarangan, yaitu Cekatan Tandur Nang Latar (Cetar). Sebab dengan keluarga mengolah hasil pekarangan, maka mereka dapat mengambil manfaat dan dapat menyajikan menu Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA) berbasis sumber daya lokal tadi,” tambahnya lagi.

Program Cetar ini, kata Hertutik bukan program baru, namun pengembangan dari program sebelumnya yaitu Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) yang pada tahun ini dikemas dengan nama Pekarangan Pangan Lestari (P2L).

“Memang di Kabupaten Lumajang masih rendah belum bisa memenuhi standar ideal, sebab skor pola pangan harapan , masih 91,58 belum 100, itu dikarenakan rendahnya masyarakat yang konsumsi buah dan sayur,” imbuhnya.

Sementara itu, seorang peserta pelatihan ini, Evi, menyatakan jika kegiatan ini sangat bermanfaat sekali. Sebab dirinya bisa mempraktekan produk olahannya dan mendapatkan dukungan dari pihak dinas terkait.

“Semoga kedepan, bukan hanya produk sambel teropong saja yang mendapatkan perhatian, mungkin produk olahan lainnya bisa diperhatikan agar mendapat tempat di hati masyarakat untuk dinikmati sebagai pangan olahan yang bersumber dari sumber daya lokal,” pungkasnya.

tik/afu

- Advertisment -

Kirim Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here