Beranda Kabar Terkini Food Security Summit 2020 Bentuk Komitmen KADIN Dalam Pemulihan Ekonomi Nasional

Food Security Summit 2020 Bentuk Komitmen KADIN Dalam Pemulihan Ekonomi Nasional

0

Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia menggelar Food Security Summit (JFSS) spada 18-19 November 2020. Karena masih dilanda pandemi Covid-19, JFSS tahun ini pun digelar secara virtual dengan dibuka langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi), Rabu (18/11/2020).

Event yang disiarkan EL JOHN TV  ini, merupakan bentuk komitmen KADIN  mensinergikan  dan menggerakan tekad bersama para pemangku kepentingan untuk pemulihan ekonomi nasional (PEN). Jika pemulihan ekonomi dapat tercapai maka ketahanan pangan nasional juga akan terwujud.

Ketua Umum KADIN Indonesia Rosan P. Roeslani mengatakan untuk memulihkan perekonomian nasional di tengah pandemi, yang menjadi andalah adalah sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan industri. Sektor-sektor tersebut diyakini dapat menjadi andalan karena tidak berdampak besar dari hantaman Covid-19 dan untuk mengoptimalkannya pun tidak terlalu berat yakni cukup dengan kolaboritas atau jalinan kemitraan yang kuat antar  para pemangku kepentingan.

“Sebagai bagian dari upaya mendukung pemulihan ekonomi nasional, sektor pangan bisa menjadi salah satu tumpuan. Sektor ini tidak terdampak besar karena pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang selalu dibutuhkan, meskipun ekonomi sedang krisis. Bahkan, dalam situasi sekarang, sektor pangan semakin strategis. Sebab, jika pangan tidak tercukupi dikhawatirkan berpotensi mengganggu stabilitas,” ungkap Rosan.

Menurut Rosan, kemitraan menjadi senjata pamungkas untuk meningkat kesejahteraan etani, peternak, dan nelayan. Namun kemitraan itu harus ditancapkan komitmen bersama dalam mendukung keberpihakan di sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan industri pengolahan.

Menurut Rosan, KADIN memberikan apresiasi kepada Pemerintah dan DPR yang telah mengesahkan Undang-Undang Cipta Kerja sebagai komitmen pemerintah dalam memberikan kepastian hukum dalam berusaha. Rosan optimis sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan industri pengolahan akan terus tumbuh seiring adanya Undang-Undang Cipta Kerja.

“Kami juga berharap pemerintah mempercepat realisasi kebijakan insentif dan stimulus untuk petani, peternak, dan nelayan guna meningkatkan daya beli dan produktivitas, serta stimulus berupa modal kerja pasca Covid-19,” ujarnya.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Agribisnis, Pangan dan Kehutanan, Franky O. Widjaja mengatakan, saat membuka JFSS ketiga pada 2015 lalu Presiden Joko Widodo memberi target kepada KADIN untuk memberi pendampingan kepada satu juta petani dari sebelumnya 200 ribuan petani.

KADIN Indonesia bersama dengan Partnership for Indonesia’s Sustainable Agriculture (PISAgro) telah berhasil mewujudkan target tersebut pada awal 2020. Para petani yang mendapatkan pendampingan tersebar di seluruh Indonesia dan telah mampu meningkatan produktivitas dan pendapatan mereka. Selanjutnya, KADIN bersama PISAgro, bertekad  untuk meningkatkan pendampingan kepada dua juta petani pada 2023.

Menurut Franky, meningkatkan produktivitas para petani dan sekaligus mencapai ketahanan pangan tidaklah mudah karena ada sejumlah kendala yang harus dihadapi, seperti ketersediaan lahan, benih unggul, pupuk, pembiayaan, pemasaran, irigasi, sarana penyimpanan hasil pertanian dan sarana- prasarana  lainnya,  serta kelembagaan. Kendala lainnya juga, kebijakan pemerintah menyangkut bibit dan bahan baku peternakan sapi penggemukan.

Namun,  KADIN  optimistis  kendala  tersebut  dapat  diatasi dengan  mengembangkan   pola  kemitraan  yang  dilandasi  prinsip  saling  menguntungkan   antara pemerintah,  pengusaha,  perbankan,  petani  melalui  koperasi,  dan  pemangku  kepentingan  lainnya dalam rantai pasok terintegrasi.

KADIN menggagas model kerja sama Inclusive Closed Loop  dan membangun ekosistem berusaha. Model kemitraan ini, kata Franky, merupakan sebuah skema kemitraan yang saling menguntungkan dari hulu-hilir sehingga keberlanjutan produksi terjaga dan petani sejahtera. Dalam sistem inclusive closed loop, ada empat unsur utama, yaitu (1) Petani mendapat akses untuk membeli bibit dan pupuk yang benar, (2) Pendampingan kepada petani untuk menerapkan good practice agriculture, (3) Kemudahan akses pemberian kredit dari lembaga keuangan, (4) Jaminan pembelian hasil petani oleh perusahaan pembina (off taker).

Skema ini sudah berhasil diterapkan terhadap komoditas kelapa sawit dan sudah mulai diikuti oleh komoditas lainnya seperti pada petani cabai di Garut, Jawa Barat.

“Kami berharap model inclusive closed loop ini dikembangkan di berbagai komoditas pertanian lainnya. Jika persoalan-persoalan mendasar yang dihadapi petani, peternak dan nelayan bisa diatasi, maka pertumbuhan dan kontribusi sektor pertanian pada stuktur PDB akan terus meningkat. Lapangan kerja di sektor pertanian juga akan meningkat, dan tentunya petani, peternak dan nelayan juga akan semakin sejahtera,” ujar Franky. ( Sumber : El John News )

- Advertisment -

Kirim Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here