Beranda Kabar Lainnya Derita Nenek Laminten Tinggal Di Bekas Toilet

Derita Nenek Laminten Tinggal Di Bekas Toilet

0

Jember – Seorang nenek di Jember tinggal di bekas toilet hingga puluhan tahun,  menurut penuturan tetangganya, sang nenek tersebut tidak ingin merepotkan anaknya dan memilih mandiri meski tinggal di bekas toilet umum.

Nenek Laminten 74 tahun, asal Kelurahan Sumbersari, Kecamatan Sumbersari Jember tidak malu atau rendah diri meski tiap hari tidur di dalam bekas toilet umum dengan hanya berukuran 1,5 x 2 meter di area perkampungan padat penduduk.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari hari, sang nenek yang masih terlihat segar bugar ini kadang mengumpulkan beras basi pemberian orang kemudian di jemur dan jika telah kering di jual ke pasar, kadang ia juga disuruh tetangganya untuk membelikan sesuatu kemudian di beri upah atas jasanya itu. Uang itulah yang di gunakan untuk membeli makanan .

Meski harus tinggal di bekas toilet, namun Laminten pantang mengemis. “nenek laminten sangat luar biasa, meski sebenarnya ia memiliki anak namun karena tak ingin menyusahkan anaknya, sang nenek memilih hidup seorang diri di dalam bekas toilet,” tutur Yeni, tetangga Laminten.

Yeni mengaku jika musim hujan bekas toilet yang di huni nenek Laminten kadang bocor, itu berarti sang nenek harus berpindah tidur di luar. Namun sang nenek tidak terbersit guratan kesedihan, meski sebenarnya Yeni dan tetangga lainnya merasa iba atas kondisi Laminten.

Jika sakit, nenek laminten hanya meminta tolong pada tetangga kanan kiri, dan enggan meminta tolong kepada anaknya yang rumahnya memang berjauhan. Para tetangganya yang kerap kali membawa laminten berobat ke rumah sakit.

Namun beruntung, selama ini nenek Laminten tidak memiliki penyakit yang kronis atau parah, sehingga usai di periksa ke dokter, penyakit yang dideritanya sehari kemudian sembuh.

Di bekas Toilet inilah, nenek Laminten seolah memilki kebebasan untuk hidup tanpa terkungkung, meski para tetangga tak jemu jemunya meminta sang nenek untuk tinggal bersama anaknya di kawasan pasar sabtuan Jember, namun nenek Laminten hanya “berkernyit” tanda enggan serumah dengan anaknya. (bbg)

Tinggalkan Komentar