Beranda Keuangan Corona Disebut Menteri Keuangan Tekan Sektor Perdagangan dan Transportasi

Corona Disebut Menteri Keuangan Tekan Sektor Perdagangan dan Transportasi

0

Sri Mulyani, Menteri Keuangan (Menkeu) mengatakan bahwa wabah virus Corona atau Covid-19 telah memukul sektor transportasi dan perdagangan RI. Hal itu terlihat jelas dari anjloknya penerimaan pajak dari sektor tersebut.

“Kita tahu sektor mana yang bertahan dan langsung terkena Corona. Terlihat dari penerimaan kepabeanan dan pajak,” ungkap Sri Mulyani dalam konferensi pers di kantornya, Rabu (20/2/2020).

Sepanjang bulan lalu, realisasi pajak sektor perdagangan sendiri baru mencapai Rp 22,18 triliun. Semula pajak sektor ini tumbuh 8,4 persen di Januari 2019, kemudian mengalami perlambatan menjadi hanya 2,8 persen di Januari 2020.

“Perdagangan mengalami penurunan dan ini kita waspadai pengaruh Corona terutama Januari dua minggu terakhir. Tadinya tumbuh 8,4 persen sekarang malah turun,” kata Sri Mulyani.

Menurutnya, untuk sektor transportasi dampak Corona terlihat sangat kentara. Ia mencontohkan biasanya sektor transportasi dan perdagangan bisa tumbuh dobel digit seperti Januari 2019 di kisaran 39,5 persen tetapi kali ini anjlok di minus 5,6 persen di Januari 2020 dengan realisasi Rp 4,88 triliun.

Sektor pengolahan juga mengalami perlambatan dengan pertumbuhan 4 persen padahal sempat mencapai 5,4 persen di Januari 2019. Namun ia bilang angka ini menunjukan sektor ini masih bertahan.

“Yang menonjol ini transportasi dan pergudangan. Ini dipengaruhi pengangkutan transportasi drop-nya turis dari laur negeri,” ucap Sri Mulyani.

Sementara itu, sektor lain seperti pertambangan juga turun dari semula tumbuh 37,3 persen di Januari 2019 kini realisasinya anjlok minus 27,3 persen di kisaran Rp7,18 triliun.

Sri Mulyani mengatakan bahwa penurunan ini memang terjadi karena turunnya permintaan batu bara Cina tapi setahunnya, sejak 2019 lalu sektor ini sudah mengalami tekanan. Dari sisi bea keluar, Menkeu mencatat sektor perdagangan besar dan eceran relatif terpukul. Bea awalnya tumbuh 127,88 persen di Januari 2019, kemudian melambat menjadi 25,13 persen dengan realisasi Rp 19,6 miliar.

Lalu semula industri pengolahan tumbuh 43,77 persen di Januari 2019, kemudian melambat di 2020 menjadi 38,66 persen di Januari 2020 dengan realisasi Rp 20,3 miliar.

“Kalau kita liat dari sisi lapangan usaha bea dan cukai penyumbang bea kelaur terbesar masih industri pengolahan masih positif. Eceran kontraksi. Ini ada pengaruh dari Corona,” ucap Sri Mulyani. (https://eljohnnews.com/)

- Advertisment -

Tinggalkan Komentar