Beranda Kabar Usaha UMKM Batok Kelapa Desa Aliyan Tembus Pasar Internasional

Batok Kelapa Desa Aliyan Tembus Pasar Internasional

0

Banyuwangi – Siapa sangka, jika limbah batok kelapa bisa tembus pasar internasional? Di tangan Suprianto (58) batok kelapa yang biasanya dibuang atau dijadikan kayu bakar dapur disulap menjadi produk yang memiliki nilai artistic tinggi.

Warga Dusun Bolot, Desa Alian, Kecamatan Rogojampi ini memanfaatkan limbah batok kelapa untuk membuat alat musik yang memiliki suara merdu. Kalimba namanya. Alat musik yang terdiri dari kotak suara dan tuts-tuts logam menempel di bagian atas ini merupakan alat music khas Afrika bagian selatan.

Kalimba kreasi Suprianto dihias dengan warna-warni cat dengan bermacam corak dan motif, sehingga tampilannya memiliki seni artistik. Tak heran, jika Kalimba produksi Banyuwangi ini banyak diminati hingga ke mancanegara.

Media9 pun mencoba untuk mendatangi kediaman Suprianto sekaligus tempat produksi alat musik Kalimba. Terlihat di pelataran rumahnya tumpukan batok kelapa dan kayu yang menjadi bahan baku untuk membuat Kalimba tersebut.

Suprianto pun tak segan untuk berbagi cerita awal mula dirinya menekuni kerajinan alat musik Kalimba dari batok kelapa tersebut. Ide memproduksi Kalimba muncul saat dirinya berada di Bali pada Tahun 2006 silam. “Dulu sih waktu di Bali saya melihat kerajian seperti ini. Sempat heran, kok bisa barang kayak begini ini laku. Sampai suatu saat saya mulai coba-coba membuat sendiri,” katanya.

Bermodal uang Rp 300.000, Suprianto berhasil membuat Kalimba yang kemudian dia pasarkan di sejumlah art shop di Bali dengan harga Rp 7.000 per buah. Hingga kemudian, pria yang akrab disapa Anto ini bertemu dengan orang Jamaica yang tertarik terhadap hasil kreatifitasnya. “Selang berjalannya waktu saya bertemu dengan orang Jamaica di Bali itu. Dari situlah saya mulai kirim ke Jamaika,” katanya.

Kini, setelah hampri 15 tahun menggeluti alat musik Kalimba, hasil kreasi Anto sudah dikenal dan di pasarkan ke sejumlah negara. Tidak hanya Jamaica, namun beberapa negara lain seperti Korea, China, Prancis, Jerman, Austria juga menggemari Kalimba produksinya tersebut.

Bahkan kini dalam sehari, Anto bersama 12 karyawannya  dapat memproduksi Kalimba hingga 1000 buah. Kebutuhan batok kelapa pun lebih dari 75 ribu hingga 140 ribu batok setiap bulan. “Batok kelapa yang saya gunakan harus yang sudah tua,” katanya.

Harga yang dipatok untuk satu unit Kalimba juga sangat terjangkau. Anto biasa menjual dengan harga harga Rp. 20.000 hingga Rp. 50.000, tergantung dari motif dan jenis bahan baku yang digunakan.

- Advertisment -

Tinggalkan Komentar