Beranda Kabar Wisata Kuliner 8 KUDAPAN KHAS RAMADHAN

8 KUDAPAN KHAS RAMADHAN

0

Media9 – Bagi orang yang berpuasa, ada dua kebahagiaan: kebahagiaan saat berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-Nya. (al-Hadis)

Yups, memang benar kalau salah satu momen yang membuat hati bahagia dan yang paling ditunggu-tunggu saat Bulan Ramadhan ialah waktu berbuka puasa. Apalagi berbuka dengan takjil atau kudapan yang murah meriah dan mudah didapat seperti Kurma, Kolak, Gorengan, Es Campur, Es Blewah dan lain-lain.

Biasanya kudapan-kudapan itu dijajakan di pinggir jalan menjelang adzan Magrib, bahkan ada yang memulainya dari siang hari.

Namun, apabila anda bosan dengan menu buka puasa yang itu-itu saja, menikmati kudapan khas Ramadhan dari berbagai daerah di Indonesia mungkin menjadi solusi dan membuat suasana  berbuka puasa anda terasa lebih berwarna.

Berikut ini 8 Kudapan Khas Ramadhan yang harus anda cicipi selama Bulan Ramadhan:

1. Bubur Kampiun, Sumatera Barat

Kalau selama ini anda mengenal jenis bubur hanya tiga jenis, seperti Bubur Ayam, Bubur Kacang dan Bubur Sumsum, berarti anda harus sering-sering main ke Sumatera Barat. Di sini ada jenis bubur yang sering dijadikan kudapan andalan saat Bulan Ramadhan, yakni Bubur Kampiun.

Bubur Kampiun adalah makanan khas masyarakat Minangkabau daratan (Darek), tepatnya daerah Bukittinggi. Biasanya bubur ini dijadikan menu sarapan, namun saat bulan ramadhan bubur kampiun dijadikan hidangan wajib buka puasa.

Bubur Kampiun tipikal jenis bubur yang kaya rasa dan mampu mengunggah selera. Komposisinya terdiri dari kukusan ketan putih, bubur putih/bubur sum-sum, bubur ketan hitam, kolak pisang/ubi, bubur kacang ijo/kacang padi, dan bubur conde atau candil.

Dengan kata lain, Bubur Kampiun adalah bubur yang terbuat dari 6 sampai 5 jenis bubur. Enam jenis bubur itu lalu dicampur dan dihidangkan ke dalam satu mangkuk, jadilah Bubur Kampiun.

Bubur Kampiun memiliki rasa manis, legit dan teksturnya lembut, sangat cocok untuk dijadikan menu buka puasa.

Ada cerita menarik mengenai asal usul Bubur Kampiun ini. Konon, pasca perang Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) sekitar tahun 60an digelarlah perlombaan kreasi membuat bubur.

Acara itu dilaksanakan di Desa Jambuair, Banuhampu, Bukittinggi, Sumatera Barat. Perlombaan itu diikuti oleh semua lapisan masyarakat. Setelah perlombaan usai, nampaklah beberapa bubur hasil kreasi peserta untuk dinilai oleh dewan juri, mulai dari bubur coklat sampai bubur keju.

Keunikan terjadi saat salah satu peserta ada yang datang terlambat, peserta itu bernama Amai Zona. Seorang nenek-nenek yang bersemangat mengikuti lomba tanpa persiapan sedikit pun, beda halnya dengan peserta lain yang memiliki persiapan yang matang.

Singkat cerita, Nenek Amai Zona pun menunjukkan skil membuat buburnya hanya dengan meracik jenis bubur yang tak habis dijualnya ke dalam beberapa mangkuk. Tanpa diduga, ternyata eh ternyata bubur hasil kreasinya itu jadi juara.

Saat ditanya mengenai apa nama bubur hasil buatannya itu, Nenek Amai Zona menjawab kalau buburnya itu bernama Bubur Kampiun yang maksudnya adalah “Champion” atau juara.

Di daerah lain, Bubur Kampiun memiliki beberapa variasi campuran, misalnya lupis ketan putih sebagai pengganti nasi ketan atau bubur delima sebagai pengganti bubur conde, bahkan ada juga pedagang yang tak menyertakan bubur conde di Bubur Kampiunnya.

Hal tersebut terjadi karena teknik pembuatannya yang cukup sulit dan bahan pokoknya yang terbatas atau karena harganya mahal.

Meski begitu, bubur ini menjadi primadona dan banyak dicari sebagai kudapan untuk berbuka puasa selama bulan . Rasanya yang manis, enak, legit dan lembut membuat makanan ini mudah dicerna di dalam perut, penikmatnya pun akan kembali bertenaga. Seilahkan mencoba…

2. Jojongkong, Lampung

Jika Ramadhan kali ini anda sedang berada di Lampung, berbuka puasa dengan Jojongkong adalah pilihan yang tepat.

Jojongkong merupakan makanan khas Ramadhan yang bisa kita temukan di daerah Lampung. Bentuknya hampir mirip dengan bubur sumsum dan memiliki rasa yang manis dan gurih.

Konon, Jojongkong ini merupakan kuliner khas masyarakat Lampung warisan Suku Tionghoa yang kini menjadi makanan favorit untuk buka puasa.

Jojongkong merupakan kudapan yang terbilang cukup sederhana, bahan dasarnya terdiri dari tepung beras, gula merah dan santan.

Ketiga bahan itu kemudian dicampurkan ke dalam mangkok. Jika masih ada waktu luang, berilah hiasan berupa potongan daun pandan dan buah ceri agar Jojongkong terlihat lebih cantik.

Rasanya yang manis dan gurih serta teksturnya yang lembut membuat makanan ini sangat cocok dijadikan menu buka puasa.

Memang benar, berbuka puasa dengan yang manis-manis selain enak dan mantap juga karena memang sunah Rasul dan baik untuk kesehatan.

Tubuh kita terasa lemas dan mudah mengantuk  selama berpuasa, hal itu disebabkan kadar gula darah di dalam tubuh menurun karena tidak mendapatkan asupan makanan.

Rasa manis yang bersumber dari gula bisa mempercepat naiknya kadar gula darah selama berpuasa dan juga menjadi sumber energi. Yups, gula darah adalah sumber energi utama tubuh.

Namun perlu diingat, berbuka puasa dengan yang manis itu secukupnya saja, jangan berlebihan.

Mengkonsumsi makanan manis secara berlebihan justru akan menyebabkan kadar gula darah menurun dan menyebabkan berat badan meningkat meski sedang berpuasa.

Oleh karena itu, berbukalah dengan yang manis secukupnya, misalnya berbuka dengan Jojongkong.

Kita bisa menemukan kudapan khas Lampung ini di pinggir jalan dari sore hari menjelang adzan Magrib dengan harga yang variatif, mulai dari harga Rp. 3.000-5.000 per porsi.

3. Es Bojong, Tasikmalaya

Selain berbuka dengan yang manis-manis, berbuka dengan yang seger-seger seperti es juga merupakan salah satu menu buka puasa andalan masyarakat Indonesia.

Demi mendapatkan sensasi kesegaran berbuka puasa dengan semangkuk es itu, tak jarang mereka rela mengantri bahkan ada yang mengantri sampai adzan Magrib berkumandang.

Varian es yang banyak diburu masyarakat saat bulan puasa biasanya Es Campur, Es Blewah, Sop Buah, Jus Buah, Es Cendol, Es Dawet, Es Teh Manis dan lain-lain.

Namun ada satu es yang wajib anda rasakan jika anda kebetulan sedang berada di Tasikmalaya, Es Bojong namanya.

Yups, Es Bojong adalah minuman segar khas Tasikmalaya yang bahan dasarnya terdiri dari campuran nangka, ketan hitam, kelapa muda, alpukat, nanas, dan cincau.

Semua bahan dasar itu kemudian dicampur dan diguyur dengan santan yang kental. Rasanya manis, gurih, enak dan tentunya segar. Pembeli juga bisa memesan Es Bojong dengan toping yang beda, seperti ditambah dengan buah Durian.

Masyarakat sekitar meyakini kalau Es Bojong ini akan terasa nikmat jika diminum untuk berbuka puasa. Rasanya yang manis, gurih  dan segar mampu mengobati rasa dahaga dan menambah tenaga selama berpuasa.

Jika dilihat secara kasat mata, Es Bojong memang masuk dalam kategori jenis es campur. Namun, karena ada beberapa bahan dasar yang tak ditemukan dalam es campur biasanya dan karena kreativitas pedagangnya dalam menarik pembeli, es ini memiliki nama sendiri, yakni  Es Bojong.

Perbedaan lainnya bisa dilihat dari sirup dan santan yang terdapat dalam Es Bojong. Sirup yang digunakan sebagai pemanis Es Bojong hasil racikan sendiri dan santannya yang gurih dan kental menjadi ciri khas es yang sangat laku dijual saat Bulan Ramadhan ini.

Nama Es Bojong diambil dari tempat pertama kali es ini muncul, yakni di Kampung Bojong, Kelurahan Cipedes, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya. Konon, menurut penuturan salah satu sesepuh Kampung Bojong, Es Bojong dipercaya sudah ada sejak negri ini baru merdeka.

Al kisah, pada zaman dulu para pedagang menjual es ini dengan cara berkeliling dari kampung ke kampung sampai akhirnya es ini jadi terkenal di seluruh daratan Tasikmalaya bahkan luar Tasikmalaya dengan nama Es Bojong.

Hampir seluruh pedagang Es Bojong di Tasikmalaya masih merupakan saudara. Jadi sudah bisa dipastikan kalau rasa dan segarnya sama, yang membedakan hanya cara meraciknya.

Harga satu gelas Es Bojong biasa hanya 10 ribu rupiah. Sedangkan segelas Es Bojong dengan toping Durian harganya 20 ribu rupiah.

Pada hari-hari biasa, kedai-kedai yang menjajakan Es Bojong buka setiap jam 10 pagi sampai jam 8 malam. Sedangkan pada bulan puasa, kedai-kedai Es Bojong buka mulai pukul 4 sore sampai malam.

Melepas dahaga dan menambah tenaga dengan sensasi kesegaran Es Bojong khas Tasikmalaya adalah salah satu pilihan berbuka puasa yang tepat.

4. Lemang dan Talam Ebi, Kalimantan Barat

Kalimantan Barat memiliki kudapan khas yang sering disantap saat Bulan Ramadhan salah satunya Lemang dan Talam Ubi.

Lemang

Lemang merupakan makanan tradisional khas Pontianak yang terbuat dari ketan putih, kacang merah dan santan kelapa.

Rasanya enak, gurih dan lemak santannya sangat terasa sehingga wajar jika umat Muslim di sini menjadikanya sebagai kudapan favorit saat berbuka puasa.

Proses pembuatannya terbilang unik. Ketan putih dan bahan-bahan lainnya digulung dengan bungkus yang terbuat dari daun pisang.

Setelah itu, lemang dimasukkan ke dalam seruas bambu lalu dibakar sampai matang. Lemang lebih enak dimakan saat masih hangat, apalagi saat buka puasa.

Selain di Kalimantan Barat, Lemang juga terdapat di daerah lain. Uniknya, daerah-daerah itu memiliki Lemang dengan cita rasa dan cara memakan yang berbeda-beda. Ada yang senang menikmatinya dengan rasa manis (ditambah selai, kinca dan serikaya).

Ada juga yang senang menikmatinya dengan rasa asin (ditambah rendang, telur dan lauk pauk lainnya). Bahkan ada juga yang senang menikmatinya dengan ditambah buah Durian.

Meski begitu, Lemang khas Pontianak memang tak ada yang menandingi, masih juara dan sangat terkenal di seluruh pelosok negeri. Lemang Pontianak terkenal karena rasanya yang gurih. rasa gurih itu berasal dari santan kelapa yang berkualitas beda dengan daerah lain.

Selain itu, keunggulan lainnya karena lemang pontianak dibakar dengan proses yang lumayan lama, selama tiga jam dan dengan perapian yang bagus agar tingkat kematangan lemang merata. Rasanya enak, gurih dan sedap cocok dimakan untuk buka puasa.

Talam Ebi

Selain Lemang, kudapan lain asal Kalimantan Barat yang cocok dimakan saat buka puasa ialah Talam Ebi.

Talam Ebi merupakan kue yang terbuat dari tepung beras sebagai bahan utamanya dan Ebi sebagai taburan di atasnya. Selain Ebi, perpaduan irisan cabe merah dan bawang putih juga menambah kelezatan Talam Ebi.

Kudapan yang menjamur pada saat Bulan Ramadhan ini konon merupakan makanan yang berasal dari akulturasi budaya Cina dan Arab. Tak heran jika kue khas Kalbar ini memiliki nama lain yaitu Kiam Ko Kue.

Soal rasa? Jangan ditanya. Talam Ebi terkenal memiliki rasa yang unik. Perpaduan tepung beras, ebi, dan lain-lain itu memunculkan rasa gurih, pedas, asin dengan teksturnya yang kenyal dan lembut.

Bentuknya juga unik dan lucu, menyerupai bentuk mangkuk berukuran kecil. Bentuk mungil ini sengaja dibuat karena hanya untuk sekali makan.

Meski ukurannya terbilang kecil, namun rasanya sangat enak dan gurih. Pokoknya sensasi rasa Talam Ebi akan menggoyang lidah dan bikin ketagihan para penikmatnya, apalagi dimakan saat buka puasa.

Kini keberadaan Talam Ebi sudah menyebar ke seluruh penjuru kota di Indonesia. Harganya juga relatif murah dan tergantung ukuran. Talam Ebi dengan ukurun mungil harganya sekitar 2.500 rupiah.

5. Bongko Kopyor, Gersik

Jalan-jalan ke Kota Santri saat Bulan Ramadhan memang momen yang sangat tepat, apalagi sambil berbuka puasa dengan Bongko Kopyor, jalan-jalannya pasti semakin afdal.

Yups, di Gresik memang ada kudapan khas yang munculnya hanya pada bulan puasa saja, yaitu Bongko Kopyor.

Bongko Kopyor adalah kudapan khas Gresik yang paling laris dijual saat Bulan Ramadhan. Bagi masyarakat umum mungkin namanya terbilang asing, namun di Gresik, makanan ini sangat terkenal karena cita rasanya yang khas.

Sekilas rasanya hampir mirip dengan bubur sumsum, namun perbedaannya terletak pada rasanya yang manis, gurih, dan teksturnya lembut saat dimakan. Memang cocok banget dijadikan kudapan buka puasa.

Bahan utama Bongko Kopyor terdiri dari tepung beras, santan, roti, irisan pisang, irisan nangka, serutan kelapa muda, dan bubur mutiara.

Semua bahan itu disatukan dan kemudian dibungkus dengan daun pisang berbentuk pincuk. Harganya relatif murah, pembeli cukup merogoh kocek 8 ribu rupiah saja sudah bisa menikmati Bongko Kopyor ini.

Karena rasanya yang unik dan harganya yang murah ini, Bongko Kopyor selalu jadi incaran masyarakat apalagi saat bulan puasa.

Meski harganya murah, namun Bongko Kopyor bisa membuat perut kenyang dan menambah tenaga yang hilang selama puasa.

Kita bisa menemukan Bongko Kopyor ini di pinggir-pinggir jalan Kota Gresik, terutama di sepanjang Jalan Komplek Gresik Kota Baru.

Selain itu, kita juga bisa menemukan Bongko Kopyor ini di bazar-bazar, pasar dan pusat jajanan takjil. Pokoknya, Bongko Kopyor sangat mudah kita dapatkan saat berada di Gresik pada Bulan Ramadhan.

Mereka biasanya sudah menggelar lapak sedari siang hari sampai menjelang adzan Magrib. Perlu diketahui, kalau keberadaan Bongko Kopyor ini hanya tersedia saat bulan puasa saja.

Entah apa alasannya, mungkin Bongko Kopyor merupakan makanan yang sudah melekat dengan Bulan Ramadhan.

Makanya, kalau bulan puasa ini anda sedang berada di Gresik, cobalah berbuka dengan Bongko Kopyor. Rasanya yang gurih, legit, enak dan lembut ini akan membuat anda ketagihan.

6. Pakat, Medan

Orang Medan pasti tahu kalau setiap bulan puasa khususnya saat menjelang Magrib, beberapa jalan di Medan selalu diselimuti asap. Bukan asap kebakaran hutan atau asap dari penjual sate, melainkan asap dari penjual pakat bakar.

Ya, Pakat adalah makanan khas medan yang kemunculannya sangat dinanti saat Bulan Ramadhan.

Berbeda dengan makanan dan minuman atau kudapan khas Ramadhan sebelumnya yang memiliki cita rasa manis, gurih dan segar, Pakat adalah lalapan yang berasal dari tumbuhan sejenis rotan yang rasanya agak sepet/pahit.

Meski pahit, namun siapa sangka kalau Pakat ini salah satu makanan primadona warga Medan setiap bulan puasa.

Bentuknya panjang seperti rotan, namun teksturnya lembut dan lunak. Bisa dibilang kalau Pakat ini adalah pucuk rotan muda yang teksturnya masih lunak.

Masyarakat Medan lebih senang makan Pakat bakar sebagai lalapan saat buka puasa. Rasanya yang sepet tapi enak ini membuat selera makan meningkat.

Ada juga yang mengolahnya menjadi sayur. Tergantung selera juga sih. Selain memberikan nafsu makan, Pakat juga dipercaya mampu menyehatkan tubuh.

Bahkan masyarakat Suku Mandailing dan Tapanuli Selatan menjadikan Pakat sebagai olahan untuk menu buka puasa, makan malam dan sahur.

Jika anda penasaran, tak ada salahnya mencoba bukan? Tak usah bingung-bingung harus mencarinya di mana, Pakat sangat mudah kita jumpai di sudut-sudut Kota Medan selama bulan Ramadhan.

Anda hanya tinggal milih, mau Pakat yang sudah dibakar atau belum dibakar. Bila tak mau ribet, pilihlah Pakat yang sudah dibakar. Tapi, jika mau merasakan Pakat dengan olahan sendiri, pilihlah Pakat yang belum dibakar.

Harganya pun sangat murah. Satu batang Pakat harganya sekitar 2.500 rupiah. Pedagang Pakat sudah mulai berjualan dari mulai pagi sampai Magrib.

Saking banyak peminatnya, penjual mampu menghabiskan ratusan batang Pakat  dalam sehari. Hal ini sangat membantu perekonomian warga setempat dan banyak warga yang sengaja menjual Pakat meski sebelumnya tak pernah menjualnya.

Proses pembuatannya pun sangat sederhana. Pakat cukup dibakar dengan bara api yang merata. Kemudian kulit luarnya dibuang, potong sesuai selera masing-masing.

Pakat bakar siap disantap sebagai lalapan, tentunya dengan nasi hangat plus sambal sebagai menu buka puasa anda. Selamat mencoba…

7. Kicak, Yogyakarta

Kalau ada yang bertanya, apa kuliner khas Yogyakarta? Mungkin kita semua akan menjawab Gudeg. Bukan so tahu, tapi memang kenyataannya demikian, kalau kuliner khas Yogyakarta yang sangat terkenal adalah Gudeg.

Tapi perlu anda ketahui, kalau Jogja masih memiliki kuliner khas yang sangat unik, yaitu Kicak. Kicak adalah kudapan khas Jogja yang kemunculannya hanya ada pada waktu bulan puasa, setelah lebaran, keberadannya hilang entah kemana.

Rasanya yang manis dan teksturnya yang lembut membuat Kicak sangat digemari warga Jogja untuk menu buka puasa (takjil).

Kicak terbuat dari campuran beras ketan yang telah dikukus dan ditumbuk halus menjadi jadah, lalu dicampur dengan parutan kelapa, gula, garam, irisan buah nangka dan daun pandan.

Dulu, Kicak dibungkus dengan daun pisang. Demi efisiensi dan agar lebih praktis, kini Kicak dibungkus dengan plastik mika berbentuk kotak.

Harganya sangat murah. Hanya dengan merogoh kocek Rp. 2.000-5000 kita sudah bisa menikmati satu bungkus Kicak untuk buka puasa.

Namun, tahukah kamu, kalau kudapan murah meriah khas kota pariwisata ini memiliki sejarah yang unik?

Yups, sebagaimana teori gravitasi ditemukan oleh Isaac Newton dan lampu pijar ditemukan oleh Thomas Alva Edison, pun dengan Kicak. Kicak pertama kali ditemukan atau dibuat oleh Mbah Wono pada tahun 1950-an.

Mbah Wono adalah seorang pedagang kue asal Kampung Kauman, Yogyakarta. Mbah Wono melakoni profesi sebagai pedagang makanan sudah sejak lama.

Meski dia sang pembuat Kue Kicak yang pertama, namun dia tak mengingat mengapa kue buatannya itu diberi nama “Kicak”.

Namun, sumber lain mengatakan kalau mayoritas Kampung Kauman memiliki kebiasaan menyebut Jadah (makanan dari tepung ketan/bahan dasar Kicak) dengan sebutan Kicak.

Kalau sedang berada di Jogja, dan penasaran dengan Kicak, anda bisa berkunjung ke Pasar Ramadhan, tepatnya di Kampung Kauman, Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Yogyakarta.

Pasar Ramadhan ini sudah ramai sejak sore hari hingga menjelang buka puasa. Pastikan saat berburu Kicak ini anda datangnya tidak terlalu sore, karena dikhawatirkan Kicak sudah habis terjual.

Selain Kicak, ada juga ragam jajanan menu buka puasa yang bisa kita temui di sepanjang jalan Kauman ini dengan harga yang murah meriah. Tapi tetap saja yang paling diburu warga ialah Kicak, apalagi Kicak buatan Mbah Wono.

Memang pedagang Kicak dewasa ini menjamur karena ternspirasi oleh Mbah Wono. Mereka membuat Kicak versi masing-masing, hal ini membuat Pasar Ramadhan di Kampung Kauman didominasi oleh tukang Kicak. Meski begitu,  Kicak versi Mbah Wono tetap menjadi primadona.

8. Kue Tetu, Sulawesi Tengah

Bila sedang berada di Kota Palu, tak lengkap rasanya kalau belum mencicipi Kue Tetu, kue yang selalu terjual habis saat Bulan Ramadhan.

Rasanya manis dan teksturnya yang lembut membuat kue ini sangat cocok dijadikan takjil. Memakan Kue Tetu selain mampu mengobati rasa lapar, juga mampu menghilangkan rasa dahaga.

Hal ini karena dalam kandungan kue terdapat cairan gula merah dan teksturnya yang lembut dan dingin.

Harganya pun cukup terjangkau. Satu bungkus plastik mika dengan isi tiga sampai empat Kue Tetu hanya 5000 rupiah.

Bahan utama Kue Tetu yaitu tepung terigu, tepung beras, gula merah, gula putih, santan kelapa, dan daun pandan. Kalau mau praktis, anda tinggal pergi ke pasar atau ke pusat jajanan takjil sekitar Kota Palu, di sini banyak yang jual Kue Tetu.

Bisa juga membuatnya sendiri di rumah dengan bahan-bahan tadi. Itung-itung mengisi waktu luang sambil ngabuburit. Apalagi proses pembuatannya pun terbilang mudah.

Anda cukup menyediakan adonan tepung terigu lalu dicampur dengan santan dan gula. Kemudian masukkan adonan itu ke dalam daun pandan yang sudah dicetak menyerupai perahu. Kukuslah selamas 20-30 menit. Kue tetu pun siap disantap sebagai menu buka puasa.

Di Kota Palu kue ini dikenal juga dengan sebutan Kue Perahu. Alasannya, karena wadah atau cetakan kuenya yang terbuat dari daun pandan itu menyerupai bentuk perahu.

Di wilayah Jawa dan sekitarnya, kolak dan gorengan adalah menu wajib buka puasa, sedangkan di Kota Palu dan sekitarnya, menu wajib untuk buka puasa ialah Kue Tetu.

Konon, berbuka puasa dengan Kue Tetu membuat para penimatnya ketagihan. Tak pelak hal ini membuat berkah para pedagang. Setiap hari Kue Tetu mereka habis terjual.

Mereka sudah mulai menggelar lapaknya sore hari sampai menjelang Magrib. Saking digemarinya, bahakan ada beberapa pedagang yang kuenya habis terjual sebelum adzan Magrib berkumandang.

Meski identik sebagai kuliner khas Ramadhan dari Sulawesi Tengah, kenyataannya, Kue Tetu juga bisa ditemukan di beberapa daerah lainnya seperti di Mamuju, Sulawesi Barat, Kendari, Sulawesi Tenggara dan beberapa daerah timur lainnya.

Yang pasti, saat anda berkunjung ke Sulteng, jangan lupa berbuka puasa dengan Kue Tetu agar bulan puasa kali ini lebih berwarna. Silahkan mencoba… (www.travelclub.co.id)

- Advertisment -

Tinggalkan Komentar